<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Thoughts and Devotions</title>
	<link>http://ladh.blogsome.com</link>
	<description>Thoughts, Poems, and devotional writings by Sam-el Ladh (find out more about him in www.sam-el-ladh.com)</description>
	<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 14:04:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Jangan Kau Pikir</title>
		<link>http://ladh.blogsome.com/2009/11/18/jangan-kau-pikir/</link>
		<comments>http://ladh.blogsome.com/2009/11/18/jangan-kau-pikir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 14:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ladh</dc:creator>
		
	<category>Puisi</category>
		<guid>http://ladh.blogsome.com/2009/11/18/jangan-kau-pikir/</guid>
		<description><![CDATA[	Jangan kau pikir lembar-lembar uangmu
bisa membeli cinta di tempat ini,
kau memang dapatkan bujuk rayu
dan desah manja dari gincu tebal kami,
senyum dan kerling mata kami
memang dapat kau dekap erat..
	tapi cinta kami bukan untukmu,
tidak di tempat ini..
	cinta kami menangis bersama kami
setelah semua ini berakhir,
menjerit tanpa suara di kamar sepi
untuk semua kepalsuan dan penindasan ini
	Tidak, tidak ada cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Jangan kau pikir lembar-lembar uangmu<br />
bisa membeli cinta di tempat ini,<br />
kau memang dapatkan bujuk rayu<br />
dan desah manja dari gincu tebal kami,<br />
senyum dan kerling mata kami<br />
memang dapat kau dekap erat..</p>
	<p>tapi cinta kami bukan untukmu,<br />
tidak di tempat ini..</p>
	<p>cinta kami menangis bersama kami<br />
setelah semua ini berakhir,<br />
menjerit tanpa suara di kamar sepi<br />
untuk semua kepalsuan dan penindasan ini</p>
	<p>Tidak, tidak ada cinta dijajakan di sini</p>
	<p><strong>Sam-el Ladh</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladh.blogsome.com/2009/11/18/jangan-kau-pikir/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Panggil Kami&#8230;</title>
		<link>http://ladh.blogsome.com/2009/11/17/jangan-panggil-kami/</link>
		<comments>http://ladh.blogsome.com/2009/11/17/jangan-panggil-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 15:53:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ladh</dc:creator>
		
	<category>Puisi</category>
		<guid>http://ladh.blogsome.com/2009/11/17/jangan-panggil-kami/</guid>
		<description><![CDATA[	Jangan panggil kami penjaja cinta,
karena tidak ada cinta di sini.
Di sini memang ada senyum dan tawa,
bujuk rayu dan desah manja,
tapi tidakkah kau dengar,
rintih kepedihan dan erang kepahitan
yang terpendam bagai bara panas
coba disembunyikan di balik baju dalam?
Yang bahkan tidak akan padam
oleh kibasan lembaran rupiahmu..
	Jangan panggil kami penjaja cinta
	Sam-el Ladh
	17 - 11 - 2009

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Jangan panggil kami penjaja cinta,<br />
karena tidak ada cinta di sini.<br />
Di sini memang ada senyum dan tawa,<br />
bujuk rayu dan desah manja,<br />
tapi tidakkah kau dengar,<br />
rintih kepedihan dan erang kepahitan<br />
yang terpendam bagai bara panas<br />
coba disembunyikan di balik baju dalam?<br />
Yang bahkan tidak akan padam<br />
oleh kibasan lembaran rupiahmu..</p>
	<p>Jangan panggil kami penjaja cinta</p>
	<p><strong>Sam-el Ladh</strong></p>
	<p><em>17 - 11 - 2009</em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladh.blogsome.com/2009/11/17/jangan-panggil-kami/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Mengasihi</title>
		<link>http://ladh.blogsome.com/2009/10/01/tentang-mengasihi/</link>
		<comments>http://ladh.blogsome.com/2009/10/01/tentang-mengasihi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 15:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ladh</dc:creator>
		
	<category>Thoughts</category>
		<guid>http://ladh.blogsome.com/2009/10/01/tentang-mengasihi/</guid>
		<description><![CDATA[	Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: &#8220;Aku mengasihi Allah,&#8221; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yohanes 4:19-20)
	Baru-baru ini saya baru sadar bahwa selama ini saya salah membaca ayat-ayat ini. Selama ini saya memahami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><em>Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: &#8220;Aku mengasihi Allah,&#8221; dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.</em> (1 Yohanes 4:19-20)</p>
	<p>Baru-baru ini saya baru sadar bahwa selama ini saya salah membaca ayat-ayat ini. Selama ini saya memahami ini sebagai nasihat bahwa kita harus mengasihi sesama manusia kita juga, bukan hanya kita mengasihi Allah saja. Beberapa pertanyaan yang diajukan anak semata wayang saya yang baru duduk di bangku SD kelas 1 &#8216;tanpa sengaja&#8217; membuat saya merenungkan kembali pemahaman saya.</p>
	<p>Dia bertanya kepada saya, apakah artinya mengasihi Allah? Dia dengar di sekolah, kalau orang beragama itu dikasihi Allah, dan karena itu kita harus mengasihi Allah. Jadi, apa artinya mengasihi Allah? Jawaban yang langsung terpikir adalah: melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Lalu, perintahnya apa dan larangannya apa? </p>
	<p>Begitu sering kita menerima frasa &#8220;mengasihi Allah&#8221; dengan begitu saja - <em>Taken for granted</em>lah - tanpa benar-benar merenungkan apa artinya.  Padahal sebenarnya hal ini juga bukan sesuatu yang sepele, karena menyangkut soal akhirat. Mengasihi Allah bagi banyak orang diterima sebagai bentuk lain dari melakukan peraturan dan hukum-hukum agama. Jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berzinah, itu berarti mengasihi Allah. Mengasihi Allah juga banyak diartikan sebagai banyak memberi, sedekah, persembahan, persepuluhan ke gereja. Akan tetapi apakah mengasihi itu memang berarti melakukan sederet aturan dan hukum?</p>
	<p>Saya kemudian teringat kepada Surat Yohanes di atas. Dua ayat di atas memberitahu kita apa alasannya kita mengasihi Allah. Itu adalah karena Allah mengasihi kita (lihat Yohanes 3:16). Kemudian dilanjutkan dengan petunjuk bagaimana kita mengasihi Allah. Dan yang mengejutkan, dikatakan bahwa mengasihi saudara kita, sesama manusia, itulah cara dan bukti bahwa kita mengasihi Allah. Jadi, tidak usah pusing mencari arti mengasihi Allah di ensiklopedi tebal atau melalui tirakat dan puasa. Yang perlu dilakukan adalah pergi ke luar dan mulai mengasihi sesama manusia.</p>
	<p>Jadi, sayangku.. mengasihi Allah itu artinya mengasihi teman-temanmu, bahkan mereka yang kamu paling tidak sukai sekalipun, yang sering mengusili dan mengganggu kamu juga&#8230;.</p>
	<p><center><em> I really only love God as much as I love the person I love the least </em>(Dorothy Day)</center></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladh.blogsome.com/2009/10/01/tentang-mengasihi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Punya Segalanya</title>
		<link>http://ladh.blogsome.com/2009/09/25/aku-punya-segalanya/</link>
		<comments>http://ladh.blogsome.com/2009/09/25/aku-punya-segalanya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 10:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ladh</dc:creator>
		
	<category>Thoughts</category>
		<guid>http://ladh.blogsome.com/2009/09/25/aku-punya-segalanya/</guid>
		<description><![CDATA[	Success is counted sweetest by those who ne&#8217;er succeed..
	Ah.. jangan tanyakan
berapa banyak simpanan mata uang asingku,
atau berapa gram logam mulia tabunganku,
apalagi merek mobil apa yang kukendarai,
dan tipe rumah macam apa yang kudiami
	Aku punya segalanya,
sambil berbagi dengan siapa saja yang butuhkan,
ketenangan dan kedamaian jiwa,
untuk bisa tertawa dan menangis bersama mereka,
adalah harta tiada tara yang tak tergantikan
	Ah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><em>Success is counted sweetest by those who ne&#8217;er succeed..</em></p>
	<p>Ah.. jangan tanyakan<br />
berapa banyak simpanan mata uang asingku,<br />
atau berapa gram logam mulia tabunganku,<br />
apalagi merek mobil apa yang kukendarai,<br />
dan tipe rumah macam apa yang kudiami</p>
	<p>Aku punya segalanya,<br />
sambil berbagi dengan siapa saja yang butuhkan,<br />
ketenangan dan kedamaian jiwa,<br />
untuk bisa tertawa dan menangis bersama mereka,<br />
adalah harta tiada tara yang tak tergantikan</p>
	<p>Ah, jangan tanyakan,<br />
aku punya segalanya&#8230;</p>
	<p><strong>Sam-el Ladh</strong><br />
25 / 09 / 2009
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladh.blogsome.com/2009/09/25/aku-punya-segalanya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali</title>
		<link>http://ladh.blogsome.com/2009/09/13/kembali/</link>
		<comments>http://ladh.blogsome.com/2009/09/13/kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 13:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ladh</dc:creator>
		
	<category>Puisi</category>
		<guid>http://ladh.blogsome.com/2009/09/13/kembali/</guid>
		<description><![CDATA[	Bapak itu berlari dengan setelan jubah lengkapnya,
tergopoh-gopoh dia berlari tanpa menghiraukan sekeliling,
sesekali kakinya tersandung dan dia terhuyung,
namun tetap dia meneruskan larinya tanpa ragu.
	Alasan dia berlari ternyata seorang pemuda lusuh,
bajunya sobek di sana sini, compang-camping khas pengemis,
bau badannya menyengat dan kulitnya terbakar matahari,
sorot matanya pun kelam dan menyimpan banyak luka.
	Bapak itu tergopoh-gopoh berlari kepada pemuda itu,
menubruknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Bapak itu berlari dengan setelan jubah lengkapnya,<br />
tergopoh-gopoh dia berlari tanpa menghiraukan sekeliling,<br />
sesekali kakinya tersandung dan dia terhuyung,<br />
namun tetap dia meneruskan larinya tanpa ragu.</p>
	<p>Alasan dia berlari ternyata seorang pemuda lusuh,<br />
bajunya sobek di sana sini, compang-camping khas pengemis,<br />
bau badannya menyengat dan kulitnya terbakar matahari,<br />
sorot matanya pun kelam dan menyimpan banyak luka.</p>
	<p>Bapak itu tergopoh-gopoh berlari kepada pemuda itu,<br />
menubruknya dan mendekapnya sangat erat,<br />
baju compang-camping dan badan bau tidak dipedulikannya,<br />
bahkan terlihat air mata mulai menggenang kelopak matanya.</p>
	<p>&#8220;Anakku yang mati telah bangkit kembali!<br />
Anakku, engkau!&#8221;</p>
	<p><strong>Sam-el Ladh</strong>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ladh.blogsome.com/2009/09/13/kembali/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
