Thoughts and Devotions

October 1, 2009

Tentang Mengasihi

Filed under: Thoughts

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yohanes 4:19-20)

Baru-baru ini saya baru sadar bahwa selama ini saya salah membaca ayat-ayat ini. Selama ini saya memahami ini sebagai nasihat bahwa kita harus mengasihi sesama manusia kita juga, bukan hanya kita mengasihi Allah saja. Beberapa pertanyaan yang diajukan anak semata wayang saya yang baru duduk di bangku SD kelas 1 ‘tanpa sengaja’ membuat saya merenungkan kembali pemahaman saya.

Dia bertanya kepada saya, apakah artinya mengasihi Allah? Dia dengar di sekolah, kalau orang beragama itu dikasihi Allah, dan karena itu kita harus mengasihi Allah. Jadi, apa artinya mengasihi Allah? Jawaban yang langsung terpikir adalah: melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Lalu, perintahnya apa dan larangannya apa?

Begitu sering kita menerima frasa “mengasihi Allah” dengan begitu saja - Taken for grantedlah - tanpa benar-benar merenungkan apa artinya. Padahal sebenarnya hal ini juga bukan sesuatu yang sepele, karena menyangkut soal akhirat. Mengasihi Allah bagi banyak orang diterima sebagai bentuk lain dari melakukan peraturan dan hukum-hukum agama. Jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berzinah, itu berarti mengasihi Allah. Mengasihi Allah juga banyak diartikan sebagai banyak memberi, sedekah, persembahan, persepuluhan ke gereja. Akan tetapi apakah mengasihi itu memang berarti melakukan sederet aturan dan hukum?

Saya kemudian teringat kepada Surat Yohanes di atas. Dua ayat di atas memberitahu kita apa alasannya kita mengasihi Allah. Itu adalah karena Allah mengasihi kita (lihat Yohanes 3:16). Kemudian dilanjutkan dengan petunjuk bagaimana kita mengasihi Allah. Dan yang mengejutkan, dikatakan bahwa mengasihi saudara kita, sesama manusia, itulah cara dan bukti bahwa kita mengasihi Allah. Jadi, tidak usah pusing mencari arti mengasihi Allah di ensiklopedi tebal atau melalui tirakat dan puasa. Yang perlu dilakukan adalah pergi ke luar dan mulai mengasihi sesama manusia.

Jadi, sayangku.. mengasihi Allah itu artinya mengasihi teman-temanmu, bahkan mereka yang kamu paling tidak sukai sekalipun, yang sering mengusili dan mengganggu kamu juga….

I really only love God as much as I love the person I love the least (Dorothy Day)

September 25, 2009

Aku Punya Segalanya

Filed under: Thoughts

Success is counted sweetest by those who ne’er succeed..

Ah.. jangan tanyakan
berapa banyak simpanan mata uang asingku,
atau berapa gram logam mulia tabunganku,
apalagi merek mobil apa yang kukendarai,
dan tipe rumah macam apa yang kudiami

Aku punya segalanya,
sambil berbagi dengan siapa saja yang butuhkan,
ketenangan dan kedamaian jiwa,
untuk bisa tertawa dan menangis bersama mereka,
adalah harta tiada tara yang tak tergantikan

Ah, jangan tanyakan,
aku punya segalanya…

Sam-el Ladh
25 / 09 / 2009

June 5, 2009

Pernahkah Kau Mencintai

Filed under: Thoughts

Pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalam, sampai kau rela tinggalkan semua kenyamanan dan kemewahanmu, juga semua yang terkasih dan tersayang bagimu, agar kau bisa bersama dengan dia yang kau cintai?

Pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalam, sehingga kau rela memberikan semua yang ada padamu, tanpa menyayangkan dan menghitung-hitung sedikitpun; semua yang dapat kau berikan, kau berikan dengan tulus kepada dia yang kau cintai?

Pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalam, hanya untuk kemudian menemukan dia menikammu dari belakang, menghajar dan merobohkanmu, bahkan menghujamkan paku-paku tajam ke tangan dan kakimu, dan menjadikanmu tontonan, olok-olok dan hinaan seantero jagad?

Pernahkah kau mencintai seseorang sebegitu dalam? Pernahkah, karena sesungguhnya itulah cinta sejati…

Grant me the Grace to love, the way You have loved me

Sam-el Ladh

May 15, 2009

It is Written

Filed under: Thoughts

Slumdog Millionaire adalah satu dari sedikit film yang memberikan kesan yang sangat mendalam bagi saya. Kisah dongeng seorang anak dari pemukiman kumuh di Mumbay yang memenangkan kuis televisi Who Wants To Be A Millionaire ini, memberi kesan yang mendalam melalui gambarannya yang jujur mengenai kehidupan pemukiman kumuh dan masyarakat kelas bawah di Mumbay. Bagaimana masyarakat kelas bawah di India begitu tergila-gila pada bintang-bintang Bollywood, permusuhan antara penganut Hindu dan umat Muslim, tipu muslihat gangster India merekrut anak-anak miskin untuk dipekerjakan sebagai pengemis, pemandu wisata ilegal yang nakal, sampai Polisi yang tunduk kepada mafia, dan masih banyak lagi, digambarkan dengan jujur tanpa kesan ‘dimanis-maniskan’ sama sekali. Dengan menonton satu film ini saja, kita bisa mendapat banyak gambaran mengenai kehidupan masyarakat kelas bawah di India.

Kesan yang lebih mendalam saya dapatkan melalui tema yang saya tangkap sebagai ‘pesan’ dari film ini. Film ini bicara mengenai kekuatan “Destiny”. Jamal Malik, tokoh utama, memenangkan kuis Who Wants To Be A Millionaire bukan karena alasan apa-apa, tapi karena “it is written”, sudah tersurat. Namun yang menarik, destiny dari Jamal Malik bukanlah menjadi seorang milyuner dengan memenangkan kuis itu. Destiny Jamal adalah untuk bersatu dengan Latika, gadis pujaan hatinya sejak bocah. Demi destiny ini, Jamal melewati semua rintangan dan lika-liku kehidupan yang sangat amat keras. Dia mendaftar mengikuti kuis, hanya dengan satu harapan, Latika akan menonton dia di televisi sehingga mereka bisa bertemu kembali. Oleh karena itu, ketika dia harus diinterogasi sepanjang malam oleh Polisi karena dituduh berbuat curang, dia menceritakan kisah hidupnya dengan apa adanya. Bahkan ketika di pertanyaan terakhir, dia tidak tahu jawabannya, dia asal menjawab saja, karena toh Latika sudah ditemukannya kembali.

Bagi saya, film ini memberi pesan kuat mengenai kekuatan pengharapan. Jamal sangat yakin akan destiny-nya untuk bersama Latika, karena itu dia tidak menyerah dan berhenti berharap, sekalipun kenyataan kehidupan semuanya bertolak belakang dengan keyakinannya itu. Dia tidak menyerah meski harus melarikan diri dari gangster yang mengeksploitasi mereka, menggelandang di Kereta Api antar negara bagian, terdampar di Accra dan menjadi pemandu wisata ilegal di Taj Mahal, sampai kembali ke Mumbay dengan resiko ditemukan oleh gangster yang mencari dia dan kakaknya, Salim. Ketika Salim menjadi anggota mafia, dan bisa menikmati hidupnya pun, Jamal tetap tidak goyah untuk mengejar destiny-nya.

Apa destiny anda? Apa yang sudah anda lakukan untuk mengejarnya? Ah, bercerminlah dari seorang Slumdog

Sam-el Ladh

May 2, 2009

Layak

Filed under: Thoughts

Mimpiku aneh sekali tadi malam. Aku bermimpi perjalananku di bumi telah usai dan aku dibawa ke Surga. Di Surga aku terkejut bukan kepalang karena sosok pertama yang kulihat di sana adalah seorang lelaki pendek dengan kumis tipis, Adolf Hitler (!). Belum sempat aku berkata apa-apa, aku melihat juga Idi Amin, Pol Pot, dan Mao Zedong. Aku terpana dan tidak bisa menerima apa yang aku lihat itu. Setelah beberapa saat dengan keras aku bertanya kepada Tuhan, “Bagaimana mereka bisa ada di sini, Tuhan? Mereka tidak layak!”

Tuhan menjawab perlahan, “dan kau?”

Sam-el Ladh






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer