Thoughts and Devotions

September 13, 2009

Kembali

Filed under: Puisi

Bapak itu berlari dengan setelan jubah lengkapnya,
tergopoh-gopoh dia berlari tanpa menghiraukan sekeliling,
sesekali kakinya tersandung dan dia terhuyung,
namun tetap dia meneruskan larinya tanpa ragu.

Alasan dia berlari ternyata seorang pemuda lusuh,
bajunya sobek di sana sini, compang-camping khas pengemis,
bau badannya menyengat dan kulitnya terbakar matahari,
sorot matanya pun kelam dan menyimpan banyak luka.

Bapak itu tergopoh-gopoh berlari kepada pemuda itu,
menubruknya dan mendekapnya sangat erat,
baju compang-camping dan badan bau tidak dipedulikannya,
bahkan terlihat air mata mulai menggenang kelopak matanya.

“Anakku yang mati telah bangkit kembali!
Anakku, engkau!”

Sam-el Ladh

August 26, 2009

Hidup ini hanya satu kali

Filed under: Puisi

Hidup ini hanya satu kali kawan, dan sang waktu itu jahat sekali.
Dia lebih lihai dari pencuri kawakan manapun, datang diam-diam
dan merenggut masa muda tanpa kau menyadarinya.

Hidup ini hanya satu kali kawan, dan sang waktu tidak pernah kompromi.
Tidak pernah dia mau berhenti dan mundur selangkah ke belakang,
sekalipun kau meratap dan meraung-raung dalam penyesalan.

Hidup ini hanya satu kali kawan, dan sang waktu itu kawan yang angkuh.
Dia tak punya empati untuk kesalahan dan kegagalan yang kau lakukan,
tapi dia akan terus berlari, berlari, dan berlari meninggalkanmu.

Hidup ini hanya satu kali kawan,
jangan relakan masa mudamu direnggut begitu saja,
sementara kau hanya bisa meratap dan meraung dalam penyesalan
untuk semua kesalahan dan kegagalan yang kau lakukan…

Hidup ini hanya satu kali kawan… ah..

Sam-el Ladh

August 1, 2009

I love the day you call me sweetheart

Filed under: Puisi

Sorot matamu

Rekah senyummu

Lembut sentuhanmu,

Memuncak pada

Merdu suaramu

Kala terucap:

“Sayang…”



I love the day

You call me sweetheart…



Sam-el Ladh

July 1, 2009

Kembali kepadamu

Filed under: Puisi

Kembali kepadamu, menyaksikanmu bersolek,
memoles dirimu dengan beragam kosmetik
yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Ah, kau memang lebih memesona,
memikat para pendatang dari jauh
untuk melihat keelokan rupamu,
menjamah, dan menikmatinya sampai puas.

Kembali kepadamu, menyaksikan keelokanmu
dalam hiasan beragam kosmetik yang asing bagiku.
Aku hanya bisa termangu,
haruskah aku tersenyum, atau menangis?

Karena aku tetap sayang padamu..

Sam-el Ladh

June 24, 2009

Melayani-Mu

Filed under: Puisi

Ada yang melayani-Mu karena telah memiliki segala sesuatu, namun merasa ada satu ruang kosong dalam jiwanya yang belum terisi, yang dipercayanya hanya Kau yang bisa mengisinya. Ada juga yang melakukannya karena belum memiliki apa-apa, karena itu ingin mengisi hidupnya dengan kelimpahan dan kekayaan yang ada pada-Mu.

Mereka melayani-Mu dengan giat, tekun, dan berapi-api. Menghitung setiap sukses yang diraih, setiap tepuk, setiap sorak, setiap hormat yang diterima. Mereka menceritakan setiap bejana yang terisi penuh, setiap pundi yang berlimpah, setiap monumen dan prasasti pun dipajang dan dipamerkan.

Aku juga disebut pelayan-Mu, namun aku tidak punya segala sesuatu seperti mereka. Aku juga tidak ingin mengisi hidupku dengan kelimpahan dan kekayaan-Mu. Aku juga tidak, ah jarang sekali, mendengar tepuk, sorak, dan hormat itu. Apalagi monumen dan prasasti ku pun tidak seberapa, kalau tidak mau dikatakan tidak ada.

Bejanaku hanya bejana tanah liat ini, pundiku hanya satu yang mengalirkan minyak berkat-Mu selama aku bisa, karena itu aku tak pernah bisa banggakan berlimpahnya pundiku ini. Ah, dan aku pun disebut melayani-Mu?

Sam-el Ladh






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer