Thoughts and Devotions

June 29, 2009

Pray for me

Filed under: Others

I was in the waiting room at an airport in Surabaya, when a young woman approached me. She asked if I was from Kupang, West Timor. She said I seemed familiar. Well, I have never met her before. She introduced herself as an athlete representing the province of NTT, going to a National Amateur Boxing Championship.

A lady boxer, that was interesting. Then when she found out that I was a minister, she asked me to pray for her.

“Here?”, I asked.

“Yes, please,” she answered, “and please see if I would win any medal or not.”

Wow. She wanted me to prophesy for her. So I prayed and said, if you do your best, you can at least make it to the semifinals.

I wasn’t prophesying. I was just encouraging her. Even if I had the ability to see her future, I wouldn’t tell her. If I had seen that she would win, I would make her over confident, and what If I had seen that she would lose in the first round?

Well, good luck young lady. However, you were representing my hometown.

Sam-el Ladh

April 2, 2009

Apa yang kamu cari?

Filed under: Others

Aku tidak mau sekolah lagi. Aku mau bebas. Bebas pergi sama teman-temanku, bebas melakukan apa saja yang aku mau. Aku tidak mau tinggal di sini lagi. Di sini banyak aturannya. Aku mau pergi saja.

Apa yang kamu cari? foto oleh: klak

Aku ingat pertama kali mengenal kamu, di lapangan basket SMP itu. Kamu minta izin untuk ikut bermain sepakbola bersama bocah-bocah dari sanggar kami. Aku tidak mungkin melupakan pertemuan itu, karena seorang gadis manis seperti kamu, ternyata punya tendangan geledek yang lebih keras dari anak-anak lelaki seusiamu.

Setelah itu kamu selalu ikut setiap kali kami bermain sepakbola di lapangan basket itu. Bahkan ketika Satpam SMP itu kemudian mengusir kita, karena menganggap kita ‘terlalu kotor’ untuk lapangan basket sekolah yang terhormat itu, kamulah yang paling keras menentang.

Aku ingat suatu malam ketika bertemu denganmu di sebuah warung burjo (bubur kacang ijo) dekat rumah singgah sanggar kami. Waktu itu sudah hampir tengah malam. Aku sedang mencari bocah-bocah penghuni rumah singgah yang belum pulang. Ternyata kamu pun belum pulang ke rumahmu. “Aku males pulang ke rumah, kak”, katamu ketika itu. “Aku mau tidur di jalan wae.”

Karena khawatir seorang gadis manis seperti kamu tidur di gapura di perempatan itu, aku menelpon istriku dan meminta dia menyiapkan kamar di rumahku untuk kamu malam itu.

Aku ingat setelah itu kamu jadinya sering meminta izin untuk bermalam. “Di rumah kakak enak. Daripada di rumahku, tiap hari aku diomelin ibu”, begitu alasan yang kamu berikan. Aku tidak bisa membiarkan kamu setiap hari menginap di rumahku. Aku ingin kamu pulang, berdamai dengan ibumu, dan pergi ke sekolah. Tetapi lama kelamaan, kamu semakin sering datang, dan bahkan kamu bilang kamu sudah keluar dari sekolah. Kamu tidak betah lagi tinggal di rumah.

Aku ingat akhirnya ketika sanggar kami memberikan beasiswa kepada beberapa bocah yang mau kembali bersekolah, istriku mengusulkan agar kamu pun ditawarkan untuk bersekolah lagi. Aku ingat kamu begitu bersemangat menyambut tawaran itu, dan kamu pun kemudian ikut tinggal di Pondok Pelajar yang kami dirikan untuk bocah-bocah yang mulai bersekolah kembali.

Aku ingat kekaguman guru-guru di sekolah barumu, ketika mereka bercerita bahwa kamu punya otak yang encer. Kecerdasanmu tidak kalah dengan teman-temanmu yang datang dari keluarga yang lebih mampu daripada keluargamu. Bahkan dalam beberapa mata pelajaran kamu lebih unggul daripada mereka. “Aku mau sekolah tinggi-tinggi, kak. Biar ibuku bangga dengan aku.” Kamu membuatku dan istriku tersenyum hari itu. Betapa indahnya cita-citamu.

Ah, terlalu banyak ingatanku tentangmu. Semua itu melintas dengan cepat di kepalaku ketika malam ini aku melihat kamu duduk lagi di perempatan itu. Bukan lagi seorang gadis kecil yang manis dan lugu yang suka bermain sepakbola. Kamu memilih hidup di sini, dengan segala ‘kebebasan’ itu. Apa yang kamu cari… entah siapa yang bisa memberikan jawabannya kepadaku.

Sam-el Ladh

October 23, 2007

Since you were gone

Filed under: Others

in loving memory of our beloved shepherd, Maria Park:

Since you were gone
we have to fly alone
spread our wings as you taught us
soaring on the rushing winds that frights us

since you were gone
we are all on our own
separated, not knowing what to hold on

since you were gone

sam-el ladh

** http://ladh.multiply.com/photos/album/5/The_Good_Shepherd

July 3, 2007

Siapa Namamu?

Filed under: Others, Puisi

“Kak, saya boleh nggak tidur di sini?”

Wajah pucat dan lusuh itu bertanya kepadaku. Kedua matanya yang sayu itu penuh harap menanti jawaban.

Ah. Siapa yang bisa berkata tidak, kalau melihat tubuh kecilmu yang dibalut baju kumal yang entah sudah berapa hari tidak diganti itu.

“Berapa umurmu? Kamu nggak sekolah?” Pertanyaan yang kemudian membuatku menyesal telah mengucapkannya. Bocah sembilan tahun itu setiap hari harus mengamen di perempatan jalan yang ramai, di bawah sengatan matahari jogja yang panas. Mana ada waktu baginya untuk belajar di sekolah?

Dia pun tidur bersamaku malam itu. Air mataku hampir menetes melihat dia terlelap. Entah kapan terakhir kali dia berbaring di atas kasur yang layak.

“Kamu boleh tinggal di sini, sampai kapan pun kamu mau.”

Tapi esoknya pagi-pagi, sewaktu aku sedang mandi, seorang laki-laki kekar yang mengaku ayahnya, telah menggelandang dia keluar dari rumahku.

“Dasar bocah pemalas! Tak tahu diuntung!!!” sayup-sayup masih kudengar suara makian dan tamparan itu.

Ah. Aku bahkan lupa bertanya siapa namanya.

=======================================================================
support our shelter for street children in Jogja, information at www.happyshine.org

December 20, 2005

Votum

Filed under: Others

Akhirnya pilih yg gratisan juga… Soalnya install blog di domain sendiri sangat menghabiskan space.. Thanks to Buraddori untuk masukannya yang berharga..






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer