Apa yang kamu cari?
“Aku tidak mau sekolah lagi. Aku mau bebas. Bebas pergi sama teman-temanku, bebas melakukan apa saja yang aku mau. Aku tidak mau tinggal di sini lagi. Di sini banyak aturannya. Aku mau pergi saja.”

Aku ingat pertama kali mengenal kamu, di lapangan basket SMP itu. Kamu minta izin untuk ikut bermain sepakbola bersama bocah-bocah dari sanggar kami. Aku tidak mungkin melupakan pertemuan itu, karena seorang gadis manis seperti kamu, ternyata punya tendangan geledek yang lebih keras dari anak-anak lelaki seusiamu.
Setelah itu kamu selalu ikut setiap kali kami bermain sepakbola di lapangan basket itu. Bahkan ketika Satpam SMP itu kemudian mengusir kita, karena menganggap kita ‘terlalu kotor’ untuk lapangan basket sekolah yang terhormat itu, kamulah yang paling keras menentang.
Aku ingat suatu malam ketika bertemu denganmu di sebuah warung burjo (bubur kacang ijo) dekat rumah singgah sanggar kami. Waktu itu sudah hampir tengah malam. Aku sedang mencari bocah-bocah penghuni rumah singgah yang belum pulang. Ternyata kamu pun belum pulang ke rumahmu. “Aku males pulang ke rumah, kak”, katamu ketika itu. “Aku mau tidur di jalan wae.”
Karena khawatir seorang gadis manis seperti kamu tidur di gapura di perempatan itu, aku menelpon istriku dan meminta dia menyiapkan kamar di rumahku untuk kamu malam itu.
Aku ingat setelah itu kamu jadinya sering meminta izin untuk bermalam. “Di rumah kakak enak. Daripada di rumahku, tiap hari aku diomelin ibu”, begitu alasan yang kamu berikan. Aku tidak bisa membiarkan kamu setiap hari menginap di rumahku. Aku ingin kamu pulang, berdamai dengan ibumu, dan pergi ke sekolah. Tetapi lama kelamaan, kamu semakin sering datang, dan bahkan kamu bilang kamu sudah keluar dari sekolah. Kamu tidak betah lagi tinggal di rumah.
Aku ingat akhirnya ketika sanggar kami memberikan beasiswa kepada beberapa bocah yang mau kembali bersekolah, istriku mengusulkan agar kamu pun ditawarkan untuk bersekolah lagi. Aku ingat kamu begitu bersemangat menyambut tawaran itu, dan kamu pun kemudian ikut tinggal di Pondok Pelajar yang kami dirikan untuk bocah-bocah yang mulai bersekolah kembali.
Aku ingat kekaguman guru-guru di sekolah barumu, ketika mereka bercerita bahwa kamu punya otak yang encer. Kecerdasanmu tidak kalah dengan teman-temanmu yang datang dari keluarga yang lebih mampu daripada keluargamu. Bahkan dalam beberapa mata pelajaran kamu lebih unggul daripada mereka. “Aku mau sekolah tinggi-tinggi, kak. Biar ibuku bangga dengan aku.” Kamu membuatku dan istriku tersenyum hari itu. Betapa indahnya cita-citamu.
Ah, terlalu banyak ingatanku tentangmu. Semua itu melintas dengan cepat di kepalaku ketika malam ini aku melihat kamu duduk lagi di perempatan itu. Bukan lagi seorang gadis kecil yang manis dan lugu yang suka bermain sepakbola. Kamu memilih hidup di sini, dengan segala ‘kebebasan’ itu. Apa yang kamu cari… entah siapa yang bisa memberikan jawabannya kepadaku.
Sam-el Ladh

