Thoughts and Devotions

April 29, 2009

Perjalanan

Filed under: Thoughts

Pernahkah kau memulai sebuah perjalanan hanya dengan jaminan “Percaya”? Kau tidak tahu berapa lama perjalanan itu akan kau tempuh, tidak tahu persis rutenya melewati tempat-tempat seperti apa, dan tidak mengerti resiko apa yang harus kau hadapi di dalam perjalanan itu, namun kau tetap melangkah hanya karena kau percaya kepada dia yang memanggilmu untuk memulai perjalanan itu.

Ketika kau mulai melangkah, orang-orang di sekitarmu mencibirmu, teman-temanmu bertanya-tanya, bahkan keluarga dekatmu menentang dengan keras.Ketika kau mulai melangkah, satu demi satu bahaya datang mengancam, terik matahari dan dinginnya malam, kerasnya medan yang dilalui melukaimu, penyamun dan penjahat bahkan mengintai untuk mencabut nyawamu.

Langkahmu mulai melambat. Kelelahan mulai menyergap, ketakutan pun menyelinap ke dalam hati yang tadinya berkobar-kobar itu. Di tengah perjalanan yang kau lakukan hanya dengan jaminan “Percaya” itu.

Kau termenung karena perjalanan masih sangat panjang. Kesukaran dan bahaya apa lagi yang akan menghadang, kau tidak punya gambaran sama sekali. Hanya masih terngiang dengan nyaring di telingamu, janji dia yang memanggilmu ke dalam perjalanan itu. Janji akan akhir perjalanan yang sudah dipastikan itu. Akhir yang gemilang yang kepastiannya dimeteraikan oleh darah dia yang memberi janji.

Ah, jaminanku pun hanya “Percaya” itu, namun aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada harinya kelak.

Sam-el Ladh

April 25, 2009

Astaga, Tuhan sayang padaku

Filed under: Puisi

Astaga, Tuhan sayang padaku!
Ia mencariku sampai ke sudut-sudut negeri,
Di antara timbunan sampah Ia menemukan aku,
Lapar, penuh luka, kotor, dan bau.

Tetapi astaga, Tuhan memeluk aku!
Ia membawaku pulang ke rumah-Nya,
Dibasuh-Nya diriku sampai bersih,
dipakaikan-Nya jubah putih kepadaku.

Dan astaga, Tuhan menyebutku,
“Anak-Ku, yang terkasih!”

Sam-el Ladh

April 7, 2009

Memory, once more

Filed under: Thoughts

Semua dimulai dari dering telepon di pagi hari. Kemudian isak tangis tanpa henti di seberang sana. Lalu berganti kebingungan, kegamangan, bahkan kepanikan. Ketika semua bangunan impian indah akan bunga-bunga suci yang akan bermekaran tiba-tiba luruh terhempas ke tanah. Air mata yang berjatuhan dan menggenang, bagai banjir yang memunahkan batang-batang padi yang baru mulai bertumbuh, menenggelamkan satu per satu visi dan harapan akan penghujung bumi yang telah dirajut bersama.

Ah, delapan tahun sudah, namun momen yang bagai prahara itu masih begitu jernih dalam memori. Juga momen-momen sesudahnya, ketika simpul-simpul pengikat rumah kecil kita mulai lepas satu per satu. Hanyut terbawa genangan air mata yang tidak kunjung surut, atau melayang tertiup angin dingin yang berhembus sesudahnya, yang memadamkan semua api yang bergelora di dalam dada.

Tapi tidak. Bangunan ini tidak punah, karena landasannya adalah batu karang yang teguh itu. Benih yang sudah tertabur itu mungkin terserak ke mana-mana hari ini, tapi tidak akan pernah dibiarkan mati. Aku hanya berdoa dan mau bermimpi hari ini, simpul-simpul itu terjalin kembali, sumbu yang pudar itu menyala lagi, dan bangunan ini kembali menjadi tempat berteduh para pengembara, yang merana mencari makna kehidupan, seperti kita dahulu…

in memoriam, Maria Park, ibu, gembala, ‘chiang’ kami

in memoriam

Sam-el Ladh

April 2, 2009

Apa yang kamu cari?

Filed under: Others

Aku tidak mau sekolah lagi. Aku mau bebas. Bebas pergi sama teman-temanku, bebas melakukan apa saja yang aku mau. Aku tidak mau tinggal di sini lagi. Di sini banyak aturannya. Aku mau pergi saja.

Apa yang kamu cari? foto oleh: klak

Aku ingat pertama kali mengenal kamu, di lapangan basket SMP itu. Kamu minta izin untuk ikut bermain sepakbola bersama bocah-bocah dari sanggar kami. Aku tidak mungkin melupakan pertemuan itu, karena seorang gadis manis seperti kamu, ternyata punya tendangan geledek yang lebih keras dari anak-anak lelaki seusiamu.

Setelah itu kamu selalu ikut setiap kali kami bermain sepakbola di lapangan basket itu. Bahkan ketika Satpam SMP itu kemudian mengusir kita, karena menganggap kita ‘terlalu kotor’ untuk lapangan basket sekolah yang terhormat itu, kamulah yang paling keras menentang.

Aku ingat suatu malam ketika bertemu denganmu di sebuah warung burjo (bubur kacang ijo) dekat rumah singgah sanggar kami. Waktu itu sudah hampir tengah malam. Aku sedang mencari bocah-bocah penghuni rumah singgah yang belum pulang. Ternyata kamu pun belum pulang ke rumahmu. “Aku males pulang ke rumah, kak”, katamu ketika itu. “Aku mau tidur di jalan wae.”

Karena khawatir seorang gadis manis seperti kamu tidur di gapura di perempatan itu, aku menelpon istriku dan meminta dia menyiapkan kamar di rumahku untuk kamu malam itu.

Aku ingat setelah itu kamu jadinya sering meminta izin untuk bermalam. “Di rumah kakak enak. Daripada di rumahku, tiap hari aku diomelin ibu”, begitu alasan yang kamu berikan. Aku tidak bisa membiarkan kamu setiap hari menginap di rumahku. Aku ingin kamu pulang, berdamai dengan ibumu, dan pergi ke sekolah. Tetapi lama kelamaan, kamu semakin sering datang, dan bahkan kamu bilang kamu sudah keluar dari sekolah. Kamu tidak betah lagi tinggal di rumah.

Aku ingat akhirnya ketika sanggar kami memberikan beasiswa kepada beberapa bocah yang mau kembali bersekolah, istriku mengusulkan agar kamu pun ditawarkan untuk bersekolah lagi. Aku ingat kamu begitu bersemangat menyambut tawaran itu, dan kamu pun kemudian ikut tinggal di Pondok Pelajar yang kami dirikan untuk bocah-bocah yang mulai bersekolah kembali.

Aku ingat kekaguman guru-guru di sekolah barumu, ketika mereka bercerita bahwa kamu punya otak yang encer. Kecerdasanmu tidak kalah dengan teman-temanmu yang datang dari keluarga yang lebih mampu daripada keluargamu. Bahkan dalam beberapa mata pelajaran kamu lebih unggul daripada mereka. “Aku mau sekolah tinggi-tinggi, kak. Biar ibuku bangga dengan aku.” Kamu membuatku dan istriku tersenyum hari itu. Betapa indahnya cita-citamu.

Ah, terlalu banyak ingatanku tentangmu. Semua itu melintas dengan cepat di kepalaku ketika malam ini aku melihat kamu duduk lagi di perempatan itu. Bukan lagi seorang gadis kecil yang manis dan lugu yang suka bermain sepakbola. Kamu memilih hidup di sini, dengan segala ‘kebebasan’ itu. Apa yang kamu cari… entah siapa yang bisa memberikan jawabannya kepadaku.

Sam-el Ladh






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer