Thoughts and Devotions

March 30, 2009

Anugerah

Filed under: Thoughts

Ah, aku baru sadari hari ini, betapa aku butuh anugerah besar untuk hidup di negeri yang luar biasa indah ini. Di negeri yang keindahan alam ciptaan Sang Maha Kuasa dengan mudah dapat ditemukan di mana-mana. Aku butuh anugerah besar.

Aku baru sadari hari ini. Di negeri seindah zamrud di khatulistiwa ini, aku butuh anugerah untuk tidak takut, tetap sabar, dan pantang menyerah. Aku butuh anugerah untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Aku butuh anugerah besar.

Aku baru sadari hari ini. Di negeri yang penuh rahmat ini, terlalu banyak yang absurd dan simpang siur, yang menabrak akal sehat seorang bocah berumur lima tahun sekalipun. Ah, aku butuh anugerah besar. Dan jika kau tidak paham tulisanku ini, itu berarti kau pun membutuhkan anugerah yang sama..

Sam-el Ladh

March 26, 2009

I’m Pressing on the upward way

Filed under: Puisi


I’m pressing on the upward way,
New heights I’m gaining every day;
Still praying as I’m onward bound,
“Lord, plant my feet on higher ground.”

Lord, lift me up and let me stand,
By faith, on Heaven’s table land,
A higher plane than I have found;
Lord, plant my feet on higher ground.

Lagu ini terus berdengung di kepalaku hari ini.
Aku tidak tahan melihat dunia penuh petaka ini,
di mana keadilan digencet dan kebenaran dipinggirkan.
Di mana kepercayaan adalah barang mewah dan langka,
dan kejujuran hanya sekedar sebuah lelucon di siang bolong.

Aku tidak tahan melihat dunia penuh bencana ini,
di mana nyawa direnggut dan hati dihancurluluhkan setiap hari,
dan harapan menguap seperti embun diterjang terik mentari.
Di mana senyum dan tawa hanya kosmetik penuh kepalsuan,
dan damai sejahtera pun sekedar pemanis di bibir kering.

Angkat aku dan biarkan aku tetap berdiri,
di atas kasih yang telah menyerahkan nyawa-Nya
di bukit tengkorak itu, agar dunia penuh petaka dan bencana ini,
melihat pilihan lain selain keputusasaan dan kebinasaan

Sam-el Ladh

March 18, 2009

Kecil dan Tidak Berarti

Filed under: Thoughts

Kau sebut dirimu kecil dan tidak berarti? Tidakkah kau ingat, ketika Tuhan hendak mengangkat seorang raja untuk memimpin umat-Nya, bagaimana Dia melakukannya?

Dia tidak memilih seorang perwira, lulusan terbaik akademi militer. Tidak juga seorang komandan kompi dalam ketentaraan, yang sudah kenyang pengalaman di medan tempur. Dia tidak memilih seorang yang tegap, gagah dan berwibawa seperti itu. Dia mencari seorang muda belia, yang tidak dianggap, bahkan di antara keluarganya sendiri. Yang hampir-hampir dilupakan keberadaannya, bahkan oleh ayah kandungnya sendiri. Seorang muda belia, yang begitu tidak berarti, yang setiap hari menghabiskan waktunya menjaga domba-domba ayahnya, jauh di padang sunyi.

Dia mencari seorang yang belia dan tidak berarti. Yang tidak paham istilah-istilah rumit kemiliteran, ataupun rumus dan strategi peperangan yang canggih. Seorang belia dan tidak berarti, yang hanya paham hati seorang gembala, untuk menjaga domba-dombanya dari ancamanan serigala dan beruang yang ganas.

Kau sebut dirimu kecil dan tidak berarti?

18 - 03 - 2009

Sam-el Ladh

March 12, 2009

Kangen

Filed under: Puisi

Aku rindu sekali padamu hari ini
Aku merindukan senyum di wajahmu,
dan tanganmu yang kokoh itu memelukku,
mengusap kepalaku dan membelai rambutku.

Aku rindu dipanggul di bahumu,
sambil kuayunkan kedua kakiku dengan riang.
Menyusuri jalan-jalan kota kita,
sambil menyambut sapaan mereka yang mengenalmu.

Aku rindu mendengar kau bercerita,
kisah-kisah hebat di masa lampau,
tokoh-tokoh perkasa yang memberi inspirasi,
yang hingga kini bahkan tetap bergema di hatiku

Aku rindu sekali padamu hari ini,
saat kupandangi kekasih kecil di depanku
yang membuatku semakin bisa mengerti,
betapa aku bersyukur karenamu

12 - 03 - 2009

Sam-el Ladh

March 1, 2009

Kacamata

Filed under: Thoughts

Aku merusakkan kaca mataku hari ini. Ya, untuk ke sekian kalinya. Segera terbayang kerepotan besar yang menanti di hari-hari setelah ini. Ukuran lensaku bukan ukuran umum sehingga biasanya butuh 1-2 minggu untuk memesannya. Belum lagi lembaran rupiah ekstra yang harus mengucur dari dompetku yang tidak tebal ini. Aduh.

Tanpa dua lensa di mataku, aku seperti berjalan di twilight zone. Melihat tapi tidak bisa yakin akan apa yang dilihat. Ya, aku tahu. Jangan terlalu didramatisir. Besok, segera bergegas ke optik dan bebaskan diri dari twilight zone ini. Aduh.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer