Thoughts and Devotions

November 26, 2008

Sepi di sini

Filed under: Puisi

Ah, kenapa begitu sepi di sini, Tuan
Lihat rerumputan yang basah oleh embun ini,
belum ada jejak kaki yang menindasnya.
Dan lihat, dedaunan hijau itu,
tetes-tetes embun masih bertengger
nyaman di sana..

Hembusan angin yang dingin
mulai terasa memilukan dadaku,
dan gemerisik daun yang diterpanya,
membuat batinku meranggas kering..

Begitu sepi di sini Tuan,
tidakkah kau dengar?

Sam-el Ladh

November 24, 2008

Menolong Sesama

Filed under: Thoughts

Menolong sesama yang membutuhkan itu bukan perkara mudah. Menolong sesama bukanlah sekedar menyodorkan sekeping uang kepada tangan yang terjulur, atau mengangsurkan sebungkus nasi kepada wajah yang menengadah itu. Memang itu semua baik. Sama juga dengan sinyum kecil di wajahmu yang meneduhkan hati yang gundah ini.

Akan tetapi menolong sesama bukan perkara sederhana. Ketika rasa nyamanmu sendiri mulai terganggu, rasa amanmu terusik, dan bagian-bagian yang pribadi darimu pun digelitik olehnya. Sesamamu memang membutuhkan sekeping uang dan sebungkus nasi itu (dan tentu saja senyummu yang mengiringi semua itu). Namun mereka akan meminta lagi, dan lebih lagi.

Menolong sesama pun memerlukan pertolongan. Hanya saja, tidak banyak orang yang merasa dipanggil untuk menolongmu menolong sesama. Lebih banyak mereka merasa kau harus menolong mereka juga. Lebih banyak lagi tidak mau diganggu, diusik, dan digelitik.

Menolong sesama yang membutuhkan akan terasa melelahkan, atau malah jangan-jangan, menjemukan.

Ah, sudahlah.

Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan
soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada
komandannya.

Sam-el Ladh

November 11, 2008

Kamu Tidak Dengar?

Filed under: Puisi

He ain’t heavy, he’s my brother? Ah, tidakkah kamu dengar kata-katanya
tadi? Dia bilang, kamu hanya memanfaatkan mereka untuk memperkaya dirimu.
Lihat mobil dan rumahmu, dari mana uangnya kalau bukan dari hasil
mengeksploitasi mereka, menjual nama dan gambar mereka untuk lembaran-
lembaran uang kertas itu?

Kamu tidak dengar, sumpah serapah mereka, yang menuduhmu menggelapkan
pemberian para dermawan untuk mengenyangkan perutmu sendiri? Umpatan
mereka, bahwa kamu memanipulasi mereka untuk kepentingan sektemu sendiri?
Kamu tidak dengar, mereka yang bebas malah kamu belenggu dengan aturan dan
disiplinmu?

He ain’t heavy, he’s my brother?

Ah, sayup-sayup kudengar kembali, hiruk pikuk orang banyak yang berseru-
seru, “salibkan Dia! salibkan Dia!”

Sam-el Ladh

November 7, 2008

Yes, We Can!

Filed under: Thoughts

Ya, kita bisa punya pemimpin
yang hidup cukup dengan rumah sederhana,
mengemudikan sendiri mobil bututnya,
tapi teguh tanpa kompromi untuk kemakmuran rakyatnya

Ya, kita bisa punya pemimpin
yang datang dari kelompok minoritas,
dengan gagasan berani dan nyali besar,
menghancurkan tikus-tikus penggerogot negeri

Ya, kita bisa punya pemimpin,
yang tidak banyak bicara menebar pesona,
menghamburkan uang mencari simpati,
tapi menggulung lengan baju dan bekerja bersama rakyat

Ya, kita bisa punya pemimpin demikian,
saat kita tidur nyenyak dan terbuai mimpi
Ah..


Sam-el Ladh






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer