Biarkan Anak-Anak Itu
“Kak, anak-anak kecil ini disuruh pergi aja. Merepotkan sekali.”
Sore itu Aku seperti mendengar petir menyambar di siang hari bolong, ketika seorang pemuda yang kutampung di sanggar mengajukan gagasan itu. Walau terkejut dan marah, aku tidak menjawab dan memilih kembali tenggelam dengan catatan pembukuan yang sedang kubuat.
Tapi pikiranku tidak tertuju pada angka-angka yang tidak seberapa itu. (Kami bukan sanggar yang besar dengan dukungan dari sana-sini.) Anak-anak kecil itu memang bandel-bandel dan merepotkan. Setiap hari sanggar selalu berisik dengan teriakan mereka, entah karena rebutan menguasai remote control televisi, atau sekedar unjuk suara memamerkan lagu andalan mereka di jalanan. Setiap pagi mereka harus dibangunkan dengan sedikit dipaksa. Ketika waktu belajar di siang hari tiba, mereka harus dikejar-kejar dulu supaya bisa berkumpul semua. Waktu sore mereka harus dipaksa lagi untuk mandi. Sebelum tidur pun masih ada yang harus dipanggil pulang dari tempat mereka beradu keahlian “Counter Strike”. Malah ketika sudah tidur pun masih ada yang ribut karena rebutan selimut. Ah, benar-benar memusingkan kepala.
Tapi menyingkirkan mereka dari sanggar? Aku tiba-tiba teringat kisah sang Guru Agung dengan anak-anak kecil yang dibawa orang kepadanya. Ketika murid-murid menggerutu karena anak-anak itu akan sangat merepotkan, sang Guru memarahi mereka. Ia menyambut anak-anak itu, memberkati mereka dan bahkan mengatakan bahwa setiap orang harus menjadi seperti anak-anak kecil itu bila ingin diterima di kerajaan kekal.
Ah, anak-anak yang merepotkan itu, suara sang Guru terus bergema di kepalaku, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku.”
16 - 02 - 2008

