Thoughts and Devotions

December 30, 2007

Mengapa Kau Berseru

Filed under: Puisi

Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal
kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

Kau serukan namaku dengan lantang,
Kau teriakan dari atas bubungan rumahmu
agar setiap orang waras mendengarnya
tapi di tanganmu kau hunuskan pedang panjang

Kau pandai melafalkan namaku dari kitab-kitab
Kau lantunkan dengan irama yang ditata indah
agar setiap yang mendengarnya terpesona
tapi kau ayunkan pedang panjangmu itu

Kau sebut dirimu dengan namaku senantiasa
Kau jadikan aku jatidirimu dan kaummu
agar semua tahu dan akui bahwa kau dan aku
tapi pedang panjangmu tidak diam

Dia terayun menebas ke depan, ke belakang
ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah,
dia habisi semua yang bukan kau,
yang bukan kau dan aku

Kau serukan namaku dan tumpahkan darah
semua yang bukan kau dan aku
sampai tuntas punah
dan selesai

Kau inginkan setiap orang hanyalah kau
dan kau inginkan aku hanya milikmu
kau inginkan hanya kau dan aku
yang ada selamanya

Tetapi kau tak tahu satu hal,
Aku tak kenal kau, dan
kau tak kenal
aku

Sam-el Ladh

30 - 12 - 2007

December 29, 2007

Apa yang kau bisa katakan?

Filed under: Puisi

Apa yang kau bisa katakan saat kau sadari
apa yang kau pegang erat di tanganmu,
yang kau dekap keras dalam pelukanmu,
kau lekatkan pada dadamu,
hanyalah seonggok sampah yang tak berharga?

Apa yang kau bisa katakan saat kau sadari,
jalan yang kau jejaki dengan kaki telanjangmu
yang semak durinya menggores tubuhmu,
menyayat bahkan hati dan emosimu,
hanyalah jalan berujung jurang menganga?

Apa yang kau bisa katakan saat kau sadari,
kau tak lebih dari sosok yang tersesat,
pecundang, dungu, dan tak berdaya?

Apa yang kau bisa katakan…

“Aku, manusia celaka! Siapakah yang
akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”

29 - 12 - 2007

Sam-el Ladh

December 25, 2007

The Best Christmas

Filed under: Thoughts

Tahun ini istriku memutuskan untuk memberi hadiah Natal yang istimewa kepada Yesus. Dia mengundang Yesus untuk makan malam di rumah kami.

Sejak pagi, kami menyiapkan makan malam istimewa itu. Memilih beras yang terbaik, menyiapkan ayam panggang, sayur-sayuran yang paling segar, dan minuman yang paling memuaskan dahaga. Beberapa teman datang membantu. Ada yang membantu menyiapkan makanan, ada yang membantu membersihkan rumah dan menyiapkan tempat. Anakku pun tidak ketinggalan. Dia meminta membelikan snack dan kue-kue untuk Yesus yang akan datang ke rumah kami. Tidak lupa dia menyiapkan mainan kesukaannya dan film kartun favoritnya untuk dinikmati bersama Yesus.

Menjelang malam, Yesus pun datang ke rumah kami. Ah, ini bukan tulisan metafisis atau gaib. Injil Matius mencatat perkataan Yesus: “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Jadi, kami mengumpulkan 20-an anak jalanan untuk menikmati makan malam istimewa di hari Natal ini.

christmas Mereka pun datang. Gembira, ramai, dan bahkan berisik (setidaknya besok kami harus bisa menjelaskannya kepada para tetangga). Dimulai dengan sedikit permainan, kemudian makan-makan, dan ditutup dengan nonton dan bermain bersama, aku tidak akan melupakan hari Natal ini.

Ini adalah hari Natal yang paling melelahkan, namun luar biasa. Istriku puas karena makanan yang disediakannya licin tandas. Anakku gembira karena bisa bermain dan bahkan berteriak bersama. Dan aku, suaraku menjadi serak, karena harus terus berbicara selama beberapa jam, termasuk beberapa kali melerai pertengkaran di antara tamu-tamu istimewa kami itu.

Ah, di hari natal ini kami makan malam bersama Yesus. Terima kasih Tuhan, Engkau mau datang, sudah datang. Haleluya!

Sam-el Ladh

25 - 12 - 2007

December 22, 2007

O Night Divine

Filed under: Thoughts

Natal lagi. Entah kebetulan entah bukan, setiap menjelang Natal satu lagu yang selalu menyita perhatian adalah lagu “O Night Divine” ini.

O holy night, the stars are brightly shining
It is the night of our dear saviour’s birth

Lagu yang sangat bagus. Liriknya menyentuh dan nadanya juga enak didengar. Hanya satu yang bikin nggak enak. Mendengar lagu ini diputar di pusat perbelanjaan, mengiringi orang-orang yang berburu barang-barang “Christmas Sale”, membuat hati jadi miris.

Natal seharusnya menjadi saat paling suci, ketika umat manusia mengenang kedatangan sang juruselamat ke tengah dunia yang gelap pekat oleh dosa. Malam natal adalah malam suci, ketika umat manusia menaikkan pujian syukur kepada Tuhan, yang telah datang untuk memberi harapan baru kepada dunia yang telah hampir kehabisan nafas, dicekik oleh belenggu hidup yang penuh dosa. Malam natal adalah malam suci, ketika umat manusia berlutut menyembah di hadapan sang illahi, menyerukan puja-puji bersama para malaikat, karena juruselamat itu sudah datang ke dalam dunia.

Ah, masihkah Natal sesuci itu?

Fall on your knees, O hear the angels’ voices
O night divine, O night when Christ was born…

Selamat Natal.

Sam-el Ladh

December 17, 2007

The First Noel

Filed under: Thoughts

The first noel the angel did say
was to certain poor shepherds in fields as they lay
In fields where they lay keeping their sheep
On a cold winter’s night that was so deep…

Menurut penuturan Injil Lukas, orang-orang pertama yang diundang untuk hadir pada Natal yang pertama (the First Noel), adalah sekelompok penggembala ternak yang bersahaja di padang penggembalan Effata. Tuhan mengutus malaikat-malaikat untuk mengundang mereka secara khusus, hadir pada Natal yang pertama di sebuah tempat yang istimewa, sebuah kandang ternak di kota kecil Betlehem.

Natal yang pertama bukan dihadiri oleh penguasa dan pembesar-pembesar. Bukan juga oleh para ulama dan pemimpin agama. Tuhan hanya mengundang gembala-gembala bersahaja itu. Natal yang pertama juga tidak terjadi di sebuah gedung pertemuan yang megah, atau di ruangan hotel berbintang. Natal yang pertama mengambil tempat di sebuah kandang ternak yang sangat bersahaja.

Hari ini, lebih 2000 tahun setelah Natal yang pertama itu, seperti apakah kita merayakannya? Natal sudah menjadi identik dengan pesta dan kemewahan. Makanan lezat, pakaian baru dan dandanan sophisticated, hiasan warna-warni, dan musik dengan tata suara yang canggih, merupakan ’syarat’ sebuah perayaan Natal.

Natal tahun ini, dengan siapakah kita akan merayakannya? Natal sudah menjadi sarana memperluas pergaulan, menjamu relasi, minimal dengan bingkisan-bingkisan Natal beraneka isi. Ah, Natal bahkan menjadi momentum untuk memperkaya diri dengan tidak jujur.

The first noel the angel did say
was to certain poor shepherds in fields as they lay

Natalku tidak demikian. Natalku kali ini aku mau bersama mereka yang bersahaja itu. Bersama mereka yang bersahaja, aku mau duduk bersimpuh mengelilingi palungan itu, dan sujud di depan bayi Kristus yang terbungkus kain lampin. Bersama mereka dengan tulus dan sepenuh hati, menyanyikan puji syukur kepada sang Khalik maha besar, yang berkenan datang ke tengah ciptaan-Nya yang berdosa, untuk memberi hidup yang baru.

Noel, Noel, Noel, Noel
Born is the King of Israel…

Sam-el Ladh






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer