Thoughts and Devotions

October 26, 2007

Senyummu

Filed under: Puisi

Aku tak punya puisi lagi
untuk senyum itu
bukan karena tak ada lagi tinta
untuk menuliskannya
atau karena semua kertas
telah lapuk dimakan ngengat

Aku tak punya puisi lagi
untuk senyum itu,
senyum yang tak datang dari hati
hanya dari bibir dan mata
yang penuh kepalsuan..

Tidak,
aku tak punya puisi lagi
untuk senyum itu

sam-el ladh

October 23, 2007

Since you were gone

Filed under: Others

in loving memory of our beloved shepherd, Maria Park:

Since you were gone
we have to fly alone
spread our wings as you taught us
soaring on the rushing winds that frights us

since you were gone
we are all on our own
separated, not knowing what to hold on

since you were gone

sam-el ladh

** http://ladh.multiply.com/photos/album/5/The_Good_Shepherd

October 20, 2007

Kamu harus memberi mereka makan

Filed under: Thoughts

Pemborosan ya? Ah, aku jadi malu. Karena aku jadi teringat ucapanku kepada sang Guru ketika itu. “200 dinar pun tidak akan cukup untuk memberi makan orang sebanyak ini!”

Asal kamu tahu, upah seorang pekerja dalam sehari di tempatku adalah 1 dinar. Jadi 200 dinar adalah upah seorang pekerja dalam waktu hampir satu tahun. Karena itu aku menyarankan sang Guru untuk menyuruh saja orang-orang itu pulang, mencari makanan di kampung terdekat. Bukankah mereka sendiri yang ngotot ingin mengejar-ngejar Guru sampai ke tempat terpencil seperti ini? Lagipula, seandainya kita punya 200 dinar, kampung mana yang sanggup menyediakan roti sebanyak yang kita perlukan?

Waktu itu seorang temanku menepuk bahuku dan mengingatkan, ada seorang anak yang menyumbang 5 roti dan 2 ikan untuk sang Guru. Guru mendengar perkataannya, dan meminta makanan itu. Dan ah, cerita selanjutnya kamu bisa tebak sendiri. Lima ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak, makan sampai kenyang, bahkan masih tersisa 12 bakul roti, hanya dengan makanan sumbangan si bocah itu.

Pemborosan katamu? Kamu harus memberi mereka makan. Berapapun yang kamu punya, berikan pada sang Guru, dan Dia pasti tahu apa yang bisa dilakukan dengan itu. Sungguh.

Sam-el Ladh

October 15, 2007

Kangen

Filed under: Thoughts

Since you departed some years ago, this is the first time that I really really miss you. You can even say, I miss you like crazy!!

In those old days when you were around, whenever I had questions, you were always there with answers, or at least a different perspective to help me ponder on. And more often when this fragile mind of mine was troubled, you were always there to give comfort. Your wisdom always helped me to search better answers, or at least consolations.

But you are not here anymore. Where should I go with this restless mind, with this troubled heart? I have never wished for this since the day you departed, but today I do wish you did not go away.

I miss you so much, my Chiang..

~ Sam

October 12, 2007

Pemborosan

Filed under: Thoughts

Dengan apa kita bisa bilang bahwa apa yang kita lakukan ini bukan pemborosan besar-besaran? Lihat, anak-anak miskin yang kita kumpulkan dari jalanan itu. Mereka itu, jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-haripun mereka tidak punya uang. Lalu kita bermimpi mengembalikan mereka ke sekolah. Berapa banyak biaya untuk menyekolahkan mereka. Sekarang kita punya 16 anak usia sekolah. 11 orang usia SD yang masih bisa masuk sekolah reguler. 5 orang yang terlalu malu untuk ke sekolah reguler, jadi lebih cocok dimasukkan ke program Kejar Paket.

Kamu tahu berapa uang masuk sekolah dasar sekarang? Gratis! Tetapi masih ada uang buku dan uang seragam, yang bisa sampai 500 ribu rupiah. Jangan lupa, anak-anak yang disekolahkan itu juga perlu makan dan minum. Mereka kan tidak bisa disuruh tetap mengemis atau mengamen di jalanan. Jadi harus disiapkan juga makan-minum mereka tiap hari. Harus ada tempat yang layak untuk mereka tidur dan belajar juga. Berapa kira-kira biaya makan seorang anak setiap hari? Untuk mudahnya dirata-ratakan 10 ribu rupiah sajalah. Program Kejar Paket tidak mahal, hampir gratis malah. Akan tetapi tetap saja kita harus menyediakan biaya hidup mereka. Mungkin sebagian bisa dicarikan pekerjaan part-time. Masalahnya, mereka tidak punya keterampilan juga. Jadi kita harus keluar biaya lagi untuk mendidik mereka dengan keterampilan sederhana. Oh ya, belum lagi kalau ada anak-anak yang sakit. Siapa yang harus menanggung biaya obat dan dokter mereka? Dulu Puskesmas mau membantu tetapi sekarang birokrasinya njlimet banget, hanya untuk mengurus surat miskin aja.

Dengan apa kita bisa bilang bahwa yang kita lakukan ini bukan pemborosan? Lihat, rumah dengan 4 kamar tidur yang kita kontrak 7 juta setahun itu. Setiap bulan kita harus bayar listrik dan airnya sekitar 250 ribu. Lalu ada uang sampah 5 ribu. (Ada sebagian dari kamu yang bilang sebenarnya kita perlu rumah yang lebih besar dengan halaman yang lebih luas. Kamu tahu berapa biaya kontrak untuk rumah kayak begitu?) Kita juga perlu relawan yang mau tinggal bersama anak-anak itu. Kasihan kan kalau dia tidak diberi uang saku sekedarnya. Dulu malah ada yang minta 200 ribu seminggu untuk menjaga anak-anak itu. Belum lagi kalau kita mau mengadakan program belajar keterampilan setiap hari. Anak-anak itu senang musik, jadi bagus kalau ada tutor musik. Mereka juga suka bikin pigura dan hiasan-hiasan, jadi bagus juga kalau ada yang bisa mengajari. Susah sekarang mencari tutor gratisan! Minimal untuk ganti uang bensin atau ongkos bus lah. Nah, perlu berapa banyak duit lagi itu?

Lalu setelah anak-anak itu diajari keterampilan, dengan modal dari mana mereka bisa mulai usahanya? Perlu uang lagi untuk membantu memodali mereka kan? Ini sih bisa dibuat perjanjian, modal itu harus dikembalikan setelah sekian lama. Ada sih, yang kemarin dimodali untuk jualan makanan, dan dia sudah bisa mengembalikan modalnya. Memang kecil sih, tetapi minimal kita bisa berharap bahwa ini bisa diterapkan. Lalu ada usul pula untuk membuat perpustakaan? Yang realistis sajalah! Memang anak-anak itu senang baca, tapi berapa banyak uang yang harus keluar untuk membeli buku, membeli lemari buku dan segala macam tetek bengeknya?

Jadi, kesimpulannya, kita ini sedang melakukan proyek pemborosan besar-besaran! Wajar saja kalau tidak ada yang mau membantu. Tambahan dana? Mau minta dengan alasan apa? Aku belum cukup punya nyali untuk itu. Belum lagi kalau nanti ada yang curiga macam-macam, bahwa kita sebenarnya cuman mau memperkaya diri dan sebagainya. Ah, sudahlah. Ini cuma pemborosan. Seharusnya sejak awal tidak dimulai pekerjaan macam begini. Mending lakukan yang biasa-biasa ajalah.

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Sam-el Ladh

12-10-2007






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer