Dengan apa kita bisa bilang bahwa apa yang kita lakukan ini bukan pemborosan besar-besaran? Lihat, anak-anak miskin yang kita kumpulkan dari jalanan itu. Mereka itu, jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-haripun mereka tidak punya uang. Lalu kita bermimpi mengembalikan mereka ke sekolah. Berapa banyak biaya untuk menyekolahkan mereka. Sekarang kita punya 16 anak usia sekolah. 11 orang usia SD yang masih bisa masuk sekolah reguler. 5 orang yang terlalu malu untuk ke sekolah reguler, jadi lebih cocok dimasukkan ke program Kejar Paket.
Kamu tahu berapa uang masuk sekolah dasar sekarang? Gratis! Tetapi masih ada uang buku dan uang seragam, yang bisa sampai 500 ribu rupiah. Jangan lupa, anak-anak yang disekolahkan itu juga perlu makan dan minum. Mereka kan tidak bisa disuruh tetap mengemis atau mengamen di jalanan. Jadi harus disiapkan juga makan-minum mereka tiap hari. Harus ada tempat yang layak untuk mereka tidur dan belajar juga. Berapa kira-kira biaya makan seorang anak setiap hari? Untuk mudahnya dirata-ratakan 10 ribu rupiah sajalah. Program Kejar Paket tidak mahal, hampir gratis malah. Akan tetapi tetap saja kita harus menyediakan biaya hidup mereka. Mungkin sebagian bisa dicarikan pekerjaan part-time. Masalahnya, mereka tidak punya keterampilan juga. Jadi kita harus keluar biaya lagi untuk mendidik mereka dengan keterampilan sederhana. Oh ya, belum lagi kalau ada anak-anak yang sakit. Siapa yang harus menanggung biaya obat dan dokter mereka? Dulu Puskesmas mau membantu tetapi sekarang birokrasinya njlimet banget, hanya untuk mengurus surat miskin aja.
Dengan apa kita bisa bilang bahwa yang kita lakukan ini bukan pemborosan? Lihat, rumah dengan 4 kamar tidur yang kita kontrak 7 juta setahun itu. Setiap bulan kita harus bayar listrik dan airnya sekitar 250 ribu. Lalu ada uang sampah 5 ribu. (Ada sebagian dari kamu yang bilang sebenarnya kita perlu rumah yang lebih besar dengan halaman yang lebih luas. Kamu tahu berapa biaya kontrak untuk rumah kayak begitu?) Kita juga perlu relawan yang mau tinggal bersama anak-anak itu. Kasihan kan kalau dia tidak diberi uang saku sekedarnya. Dulu malah ada yang minta 200 ribu seminggu untuk menjaga anak-anak itu. Belum lagi kalau kita mau mengadakan program belajar keterampilan setiap hari. Anak-anak itu senang musik, jadi bagus kalau ada tutor musik. Mereka juga suka bikin pigura dan hiasan-hiasan, jadi bagus juga kalau ada yang bisa mengajari. Susah sekarang mencari tutor gratisan! Minimal untuk ganti uang bensin atau ongkos bus lah. Nah, perlu berapa banyak duit lagi itu?
Lalu setelah anak-anak itu diajari keterampilan, dengan modal dari mana mereka bisa mulai usahanya? Perlu uang lagi untuk membantu memodali mereka kan? Ini sih bisa dibuat perjanjian, modal itu harus dikembalikan setelah sekian lama. Ada sih, yang kemarin dimodali untuk jualan makanan, dan dia sudah bisa mengembalikan modalnya. Memang kecil sih, tetapi minimal kita bisa berharap bahwa ini bisa diterapkan. Lalu ada usul pula untuk membuat perpustakaan? Yang realistis sajalah! Memang anak-anak itu senang baca, tapi berapa banyak uang yang harus keluar untuk membeli buku, membeli lemari buku dan segala macam tetek bengeknya?
Jadi, kesimpulannya, kita ini sedang melakukan proyek pemborosan besar-besaran! Wajar saja kalau tidak ada yang mau membantu. Tambahan dana? Mau minta dengan alasan apa? Aku belum cukup punya nyali untuk itu. Belum lagi kalau nanti ada yang curiga macam-macam, bahwa kita sebenarnya cuman mau memperkaya diri dan sebagainya. Ah, sudahlah. Ini cuma pemborosan. Seharusnya sejak awal tidak dimulai pekerjaan macam begini. Mending lakukan yang biasa-biasa ajalah.
“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Sam-el Ladh
12-10-2007