Siapa Namamu?
“Kak, saya boleh nggak tidur di sini?”
Wajah pucat dan lusuh itu bertanya kepadaku. Kedua matanya yang sayu itu penuh harap menanti jawaban.
Ah. Siapa yang bisa berkata tidak, kalau melihat tubuh kecilmu yang dibalut baju kumal yang entah sudah berapa hari tidak diganti itu.
“Berapa umurmu? Kamu nggak sekolah?” Pertanyaan yang kemudian membuatku menyesal telah mengucapkannya. Bocah sembilan tahun itu setiap hari harus mengamen di perempatan jalan yang ramai, di bawah sengatan matahari jogja yang panas. Mana ada waktu baginya untuk belajar di sekolah?
Dia pun tidur bersamaku malam itu. Air mataku hampir menetes melihat dia terlelap. Entah kapan terakhir kali dia berbaring di atas kasur yang layak.
“Kamu boleh tinggal di sini, sampai kapan pun kamu mau.”
Tapi esoknya pagi-pagi, sewaktu aku sedang mandi, seorang laki-laki kekar yang mengaku ayahnya, telah menggelandang dia keluar dari rumahku.
“Dasar bocah pemalas! Tak tahu diuntung!!!” sayup-sayup masih kudengar suara makian dan tamparan itu.
Ah. Aku bahkan lupa bertanya siapa namanya.
=======================================================================
support our shelter for street children in Jogja, information at www.happyshine.org


i used a pic from the shine website and put it in my blog.
i hope u don’t mind….
Comment by brad — July 16, 2007 @ 5:23 pm
aku pernah ngerasain hal yang sama kayak gitu… tapi orgnya dah pergi di depan mata kita T.T gak sempet nanya nama, gak sempet ngucapin pa yg seharusnya aku ucapin, masih inget lho mpe sekarang tapi mukanya gak inget..ya iya lah..
Comment by Anna Maria — November 5, 2007 @ 7:32 am