Thoughts and Devotions

June 17, 2007

Jalan itu

Filed under: Puisi

Aku tersadar dari mimpiku malam itu.
Aku berdiri di jalan menuju
sebuah bukit batu yang tandus.
Jalan yang berdebu
dan ditinggalkan orang.
Angin berhembus
membekukan tulang-tulangku
ketika kulihat ceceran
darah di jalan itu.
Aku lalu berjalan mengikuti
jejak darah menuju puncak bukit.
Jalan yang berdebu itu menanjak curam
dengan kerikil-kerikil tajam di sana sini.

Ah, bukankah kau pernah lewat jalan ini?
Hanya ketika itu banyak orang mengiringimu
dengan hiruk pikuk teriakan hujat dan serapah?

Aku berhenti berjalan.
Aku takut bertemu kayu-kayu kasar
yang ada di puncak bukit itu.
Bayangan kengerian deritamu
membuat kakiku tak sanggup melangkah lagi.
Tubuhku mulai gemetar
bayangan kesakitanmu menggoncang aku
Keringat pun mengalir deras
dalam kedinginan yang mencekam itu

Ah, mengapa kau bawaku kembali ke sini?
Bukankah kita sudah pernah melakukannya
saat kau memanggil aku untuk mengikutimu?

Aku tersadar dari mimpiku malam itu.
Suaramu bergema kini di hatiku:
“Setiap orang yang mau mengikut Aku,
ia harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya dan mengikut Aku.”

17 Juni 2007

Sam-el Ladh






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer