Thoughts and Devotions

January 4, 2010

Tolong aku Tuhan

Filed under: Puisi

Saat kata tak sanggup lagi terucap,
huruf dan tanda baca pun membeku dalam benak,
saat keheningan menyergap tiba-tiba
bagai badai salju yang datang sebelum musim,
tak ada daya untuk sekedar berbisik lirih “tolong”.

saat itu harap hanya tersisa pada sang batin,
roh di dalam raga yang berteriak tanpa suara
kepada sang Khalik yang mendengar huruf dan tanda baca
serta kata dan frasa yang tak sanggup dibunyikan,
“tolong aku Tuhan!”

04 Jan 2010

Sam-el Ladh

January 1, 2010

Marilah Kepadaku

Filed under: Thoughts

Mengakhiri satu tahun tidak pernah mudah bagi saya. Entah kenapa, ketika semua orang sibuk memikirkan cara terbaik untuk menghabiskan malam akhir tahunnya, saya malah disergap oleh berbagai pikiran yang menggelisahkan. Ingatan tentang satu tahun yang akan segera berlalu berseliweran melintasi benak, dibumbui dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hasil apa yang sudah dicapai dari semua pekerjaan yang telah dilakukan. Evaluasi, refleksi, introspeksi, menyesaki ruang pikir saya. Namun di akhir tahun ini sepenggal nasehat Yesus dalam Injil ini menenangkan saya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:28-30)

Kelegaan. Itu adalah pemberian sepihak dari sang Gembala yang baik. Semua yang letih lesu oleh perjuangan dan pergulatan dalam hidup, semua yang pontang panting, tertatih-tatih, bahkan terseok-seok menjalani hari-harinya karena beban lahir batin yang begitu menekan, diundang untuk datang dan menerima kelegaan dengan cuma-cuma, gratis. Sang Gembala baik itu mengatakan dengan tegas, kelegaan akan diberikan kepada siapa saja yang datang kepadanya. Mengakhiri tahun 2009 ini, undangan sang Gembala ini merupakan hadiah akhir tahun yang terbaik. Tahun 2009 dilewati dengan begitu banyak perjuangan dan jerih payah. Ada banyak penyesalan karena kegagalan, ada banyak air mata dan kesedihan, ada banyak beban yang masih menggelayut di pundak, namun saya tidak perlu membawa semua itu bersama saya memasuki tahun yang baru.

Akan tetapi sang Gembala tidak hanya sekedar mengundang untuk memberikan kelegaan. Dia menawarkan cara untuk melewati hari-hari ke depan dengan bahagia. Cara yang ditawarkan sungguh unik: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku.” Dia tidak menawarkan ranjang pegas dan kursi malas. Yang dia tawarkan adalah sebuah ‘perhambaan’ dan ‘proses’. Kuk berbicara tentang penaklukkan diri dan ketaatan sempurna (perfect submission), dan belajar adalah sebuah proses yang tidak pernah berakhir. Ajakan sang Gembala ini juga merupakan hadiah tahun baru yang terbaik bagi saya. Rahasia untuk berbahagia di tahun 2010 ini adalah yang pertama penyerahan diri kepada sang Gembala, mempersembahkan ketaatan yang sempurna untuk mengikuti pimpinan-Nya. Yang kedua adalah kesetiaan untuk terus belajar, melewati proses selangkah demi selangkah. Dan sang Gembala pun berjanji lagi: “karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.

Ah, tahun baru. Bersama sang Gembala yang baik, tidak ada yang perlu saya cemaskan. Selamat tahun baru!

Sam-el Ladh

December 21, 2009

Empati

Filed under: Thoughts

Bulan Desember ini saya banyak merenungkan tentang empati. Salah satu penyebabnya, mungkin anda bisa menebaknya dengan mudah, karena di bulan ini umat Kristiani merayakan Natal. Bagi kami di LSM Rumah Impian (Dreamhouse) Desember karenanya juga berarti bulan penuh berkah, karena kami mendapat banyak undangan dari berbagai pihak yang ingin ‘berbagi kasih’ dengan kami. Berusaha untuk selalu berpikir positif, saya mensyukuri semua undangan itu, karena itu berarti masih ada banyak pihak yang prihatin dan peduli dengan nasib anak-anak jalanan yang kami tangani. Syukur-syukur itu bahkan bukan datang dari sekedar rasa prihatin dan peduli sesaat, namun dari empati yang mendalam.

Empati. Kata yang berasal dari bahasa Yunani empatheia (ἐμπάθεια) ini, sudah dipakai secara luas untuk mengungkapkan kemampuan untuk turut merasakan perasaan dan emosi sesama. Menengok definisi kata ini di Wikipedia, saya menemukan banyak sekali definisi dari berbagai ahli. Salah satunya adalah dari DM Berger yang menyebutkan empati sebagai “The capacity to know emotionally what another is experiencing from within the frame of reference of that other person, the capacity to sample the feelings of another or to put oneself in another’s shoes“. Bagi Berger, empati adalah suatu kemampuan yang luar biasa. Bagaimana tidak, itu adalah kemampuan untuk turut merasakan secara emosi apa yang dialami di dalam diri orang lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi yang sama dengan orang lain.

Di bulan Desember ini, banyak yang menyatakan bahwa mereka mau berempati dengan anak jalanan dan orang miskin. Oleh karena itu berbagai acara bakti sosial digelar, dan bantuan karitatif digelontorkan. Semua itu tentu adalah hal yang baik. Apalagi jika sebelum melakukannya, kita merenungkan benar-benar betapa Natal sesungguhnya adalah demonstrasi empati Allah yang maha kuasa terhadap ciptaan-Nya melalui kehadiran Yesus Kristus.

Injil menceritakan, Yesus Kristus telah mengajarkan empati kepada manusia sejak dia berada di dalam kandungan. Dari sekian banyak perempuan di tanah Palestina. Allah memilih seorang perempuan desa biasa yang bernama Maria. Bukan itu saja, Maria yang dipilih Allah ini adalah seorang gadis yang belum menikah. Dalam konteks masyarakat ketika itu, seorang gadis yang kedapatan hamil sebelum nikah akan mendapat masalah yang luar biasa besar. Yesus memilih hadir ke dunia di dalam kandungan seorang gadis perawan, bukan hanya karena alasan keilahian, tetapi saya kira, karena dia ingin mengajarkan empati terhadap bayi-bayi yang ditolak sejak di dalam kandungan, karena kehamilan yang tidak direncanakan. Dia juga ingin mengajarkan empati terhadap perempuan-perempuan yang dinistakan karena kedapatan hamil sebelum menikah. Bunda Yesus Kristus, bayi Natal itu, sekurang-kurangnya harus menghadapi gunjingan orang-orang di kampungnya karena kehamilannya. Bahkan kalau bukan karena intervensi illahi, Yusuf, tunangannya, sudah akan memutuskan hubungan dengan dia.

Empati yang diajarkan Yesus berlanjut pada kisah kelahirannya. Kita sudah sangat pandai membuat dekorasi natal dengan kandang domba dan bayi Yesus yang terbaring dalam palungan. Dalam semua drama Natal, setting ini sudah menjadi wajib hukumnya. Akan tetapi ada satu hal yang kurang dalam setting kandang domba Natal kita. Kita mungkin lupa, satu ciri utama dari sebuah kandang domba tidak lain adalah bau, maaf, kotoran domba yang menyengat. Tanpa bau itu, kita tidak akan menyebutnya kandang domba. Yesus Kristus, bayi Natal kita, hadir di dunia di dalam kandang yang bau itu. Dia memilih hadir ke dunia di tempat seperti itu, karena dia mau mengajarkan kita untuk berempati dengan mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal yang layak di dunia ini, dengan mereka yang ditolak dan tidak diterima di mana-mana karena dianggap terlalu bau (dengan ataupun tanpa tanda kutip).

Merenungkan empati yang diteladankan Yesus Kristus tidak akan cukup dengan satu tulisan di blog ini saja. Seluruh hidup Yesus di bumi adalah teladan empati yang tiada tandingannya. Di Natal ini saya hanya mau merenungkan, jika Natal adalah demonstrasi empati dari Yesus Kristus, bagaimana seharusnya para pengikut-Nya menyambut Natal? Ah, masih terlalu banyak yang ditolak, dipinggirkan, bahkan diasingkan di sekitar kita. Bayi Natal itu hadir untuk mereka.

Sam-el Ladh

November 30, 2009

Aku menyaksikan cinta

Filed under: Puisi

to G… dan V..

Aku menyaksikan cinta hari ini
diteguhkan di depan sang Khalik kudus,
cinta yang menembus batas-batas fana manusia,
dan melompati tembok-tembok kemunafikan tradisi

Cinta sejati tidak dapat kau hentikan,
tidak dengan dalil hukum dan tradisi-tradisi,
tidak juga dengan pasungan dan belenggu kehidupan,
karena cinta selalu akan menemukan jalannya

Aku menyaksikan cinta hari ini
menemukan jalannya di depan sang Khalik kudus,
jalan yang sempit dan tidak biasa namun terlalu tulus
untuk dapat dihentikan oleh tangan-tangan kebencian apapun.

Jalan ini memang sempit dan berliku,
banyak lekuk dan tanjak yang curam mengancam,
panas terik dan badai taufan pun mengintip di atas kepala,
namun itu tak cukup untuk menghentikan langkahmu
langkah cinta sejati yang diteguhkan sang khalik Kudus

Aku menyaksikan cinta hari ini

Sam-el Ladh

November 27, 2009

Masih Jauh

Filed under: Puisi

Masih teramat jauh perjalanan ini sayang, sejak pertama panggilan itu terdengar. Masih amat jauh, sejak kita terbata-bata memberi jawab, sambil tertatih maju dalam langkah-langkah kecil itu.

Ah, hari ini seorang teman membuatku merenung. Apakah perjalanan ini pantas bagi kita, pantas untuk memberi senyum di bibir dengan sebuah helaan napas lega? Apakah benih yang ditabur di sepanjang jalan kita ini pantas?

Aku ingin tersenyum dan menghela napas lega. Apalagi denganmu di sampingku. Aku ingin melihat benih itu bertunas, bertumbuh dan berbuah. Namun masih teramat jauh perjalanan kita, dan matahari semakin terik bersinar di saat kemarau. Badai yang hadir di pergantian musim pun semakin kerap dan semakin menakutkan. Di kanan kiri kita melihat gemerlap dan kilau hidup yang menyilaukan mata. Di sana sini kita mendengar bisik dan teriak yang memekakkan telinga.

Dan hari ini aku tersadar, betapa aku begitu sulit tersenyum dan menghela napas lega. Padahal kau ada di sampingku. Masih jauh..

27 - 11 - 2009

Sam-el Ladh






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer