Thoughts and Devotions

March 2, 2010

jangan sandingkan..

Filed under: Puisi

Ah, jangan sandingkan aku dengan para begawan,
apa lagi dengan para beata dan santa di masa silam,
aku hanya si naif yang nekat berdiri
dan mengayunkan umban menantang raksasa..

tapi ah, aku pun tak segagah berani si bocah gembala,
yang tak terkalahkan seumur hidupnya,
aku hanya si lugu yang meninggalkan rumah ayahnya
untuk satu tujuan yang belum jelas entah ke mana..

tidak, jangan sandingkan aku dengan dia,
yang tak goyah di depan kemustahilan paling ekstrem,
aku hanya si bodoh yang buta oleh terpaan sinar maha terang,
yang menjungkirkan semua logika dengan satu dalih: iman..

Aku percaya, tolonglah aku yang tidak percaya ini!

Sam-el Ladh

February 20, 2010

Sudahlah Kawan

Filed under: Puisi

Sudahlah kawan, mereka sudah jauh,
jejak-jejak kaki itu sudah jadi prasasti,
mimpi-mimpi itu telah larut
oleh pekatnya zaman,
namun tak usah kau ratapi juga,
karena cinta sejati hanya ada satu,
dan percayalah, di ujung jalan nanti
kau akan bersama lagi

Sam-el Ladh

February 13, 2010

Apa Yang Kau Kejar

Filed under: Puisi

Apa yang kau kejar dari perjalanan panjang ini?
Seberkas pujian dan sanjungan lidah dan bibir fana,
atau sejumput ucap syukur dan terima kasih manusia?
Apakah kau mengejar pengakuan dan rekomendasi,
sederet gelar, sebutan, dan penghormatan,
atau mungkin sebuah tabik dan acungan jempol?

Di kayu kasar itu tidak ada semua itu,
padahal itulah ujung perjalanan panjang ini.

13-02-2010

Sam-el Ladh

January 4, 2010

Tolong aku Tuhan

Filed under: Puisi

Saat kata tak sanggup lagi terucap,
huruf dan tanda baca pun membeku dalam benak,
saat keheningan menyergap tiba-tiba
bagai badai salju yang datang sebelum musim,
tak ada daya untuk sekedar berbisik lirih “tolong”.

saat itu harap hanya tersisa pada sang batin,
roh di dalam raga yang berteriak tanpa suara
kepada sang Khalik yang mendengar huruf dan tanda baca
serta kata dan frasa yang tak sanggup dibunyikan,
“tolong aku Tuhan!”

04 Jan 2010

Sam-el Ladh

January 1, 2010

Marilah Kepadaku

Filed under: Thoughts

Mengakhiri satu tahun tidak pernah mudah bagi saya. Entah kenapa, ketika semua orang sibuk memikirkan cara terbaik untuk menghabiskan malam akhir tahunnya, saya malah disergap oleh berbagai pikiran yang menggelisahkan. Ingatan tentang satu tahun yang akan segera berlalu berseliweran melintasi benak, dibumbui dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hasil apa yang sudah dicapai dari semua pekerjaan yang telah dilakukan. Evaluasi, refleksi, introspeksi, menyesaki ruang pikir saya. Namun di akhir tahun ini sepenggal nasehat Yesus dalam Injil ini menenangkan saya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:28-30)

Kelegaan. Itu adalah pemberian sepihak dari sang Gembala yang baik. Semua yang letih lesu oleh perjuangan dan pergulatan dalam hidup, semua yang pontang panting, tertatih-tatih, bahkan terseok-seok menjalani hari-harinya karena beban lahir batin yang begitu menekan, diundang untuk datang dan menerima kelegaan dengan cuma-cuma, gratis. Sang Gembala baik itu mengatakan dengan tegas, kelegaan akan diberikan kepada siapa saja yang datang kepadanya. Mengakhiri tahun 2009 ini, undangan sang Gembala ini merupakan hadiah akhir tahun yang terbaik. Tahun 2009 dilewati dengan begitu banyak perjuangan dan jerih payah. Ada banyak penyesalan karena kegagalan, ada banyak air mata dan kesedihan, ada banyak beban yang masih menggelayut di pundak, namun saya tidak perlu membawa semua itu bersama saya memasuki tahun yang baru.

Akan tetapi sang Gembala tidak hanya sekedar mengundang untuk memberikan kelegaan. Dia menawarkan cara untuk melewati hari-hari ke depan dengan bahagia. Cara yang ditawarkan sungguh unik: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku.” Dia tidak menawarkan ranjang pegas dan kursi malas. Yang dia tawarkan adalah sebuah ‘perhambaan’ dan ‘proses’. Kuk berbicara tentang penaklukkan diri dan ketaatan sempurna (perfect submission), dan belajar adalah sebuah proses yang tidak pernah berakhir. Ajakan sang Gembala ini juga merupakan hadiah tahun baru yang terbaik bagi saya. Rahasia untuk berbahagia di tahun 2010 ini adalah yang pertama penyerahan diri kepada sang Gembala, mempersembahkan ketaatan yang sempurna untuk mengikuti pimpinan-Nya. Yang kedua adalah kesetiaan untuk terus belajar, melewati proses selangkah demi selangkah. Dan sang Gembala pun berjanji lagi: “karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.

Ah, tahun baru. Bersama sang Gembala yang baik, tidak ada yang perlu saya cemaskan. Selamat tahun baru!

Sam-el Ladh






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer