Every time you go away…
Everytime you go away, you take a piece of me with you
Penggalan lagu yang dilantunkan oleh Paul Young itu bergema di kepalaku ketika mendengar salah seorang anak asuh kami, sebut saja Budi, kembali kabur ke jalanan. Satu tahun lebih, dia telah bersama kami dan kembali ke sekolah. Sejujurnya, mengembalikannya ke sekolah merupakan salah satu pencapaian terbesar kami. Setidaknya, suatu pencapaian yang paling memuaskan kami. Begitu lama kami mendekatinya, orang tuanya, meyakinkan mereka, atau lebih tepatnya membujuk mereka, agar dia diizinkan untuk tinggal bersama kami dan bersekolah. Aku juga masih ingat, ketika diwawancara pihak sekolah, aku tidak ragu untuk menyebutkan angka yang kami rela bayarkan sebagai sumbangan sukarela, supaya bisa memastikan tempatnya di sekolah itu.
Untuk informasi, Budi mempunyai delapan saudara, dengan adik yang terkecil masih bayi. Dia dan semua saudaranya “dikaryakan” orang tua mereka untuk mengamen dan meminta-minta di jalanan. Karena itulah kami berusaha keras “merebut” dia, dan saudara-saudaranya, dari kehidupan yang tidak layak itu. Apa yang kami rasakan sebagai kerja keras itu, terasa sepadan ketika dia dan dua orang kakaknya diizinkan orang tua mereka untuk bergabung bersama kami.
Hari-hari pertama tiga bersaudara ini di sekolah adalah hari-hari yang paling membahagiakan kami. Akan tetapi, salah seorang dari mereka ternyata hanya bisa bertahan satu semester. Dia kabur dan tidak mau kembali lagi ke sekolah. Seorang kakak yang lain bertahan hampir satu tahun. Tepat sebelum ujian kenaikan kelas, dia kembali ke jalanan, dan bergabung dengan teman-temannya “yang lebih bisa mengerti aku”, katanya. Mereka merasa gagal beradaptasi dengan dunia baru mereka, dunia sekolah dan kehidupan rumahan.
Budi pun tidak bisa dikatakan “mulus” dalam adaptasinya di dunia barunya. Beberapa kali dia ngambek dan kabur ke jalanan, tetapi selalu berhasil kami bujuk untuk kembali. Dukungan penuh dari pihak sekolah, guru dan teman-temannya, juga membuat kami yakin, Budi tidak akan menyerah seperti kedua kakaknya.
Setiap kali Budi ngambek dan kabur, aku dan teman-teman akan mencarinya dan mengajaknya pulang. Ketika bulan ramadhan yang lalu, dia kabur lagi dan menolak untuk pulang. Selama satu bulan kami membujuk dan menunggunya, karena itu ketika liburan lebaran usai dia kembali, aku hampir mengadakan pesta besar untuk menyambutnya.
Everytime you go away, you take a piece of me with you
Hari ini, aku dilapori bahwa Budi kabur lagi. Sepulang dari sekolah dia masih sempat membereskan peralatan sekolahnya dan makan siang. Namun saat teman-temannya berkumpul untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dia menghilang. Hatiku tidak karuan mendengar kabar ini. Tidak tahukah dia, setiap kali dia kabur, dia membawa sepenggal hatiku bersamanya? Aku selalu merasa, aku tidak mempunyai banyak untuk diberikan kepadanya, dan teman-teman dari jalanan lainnya yang tinggal di tempat kami. Yang aku bisa beri adalah segenap hatiku. Segenap hidupku, itulah yang aku bagikan kepadamu Budi. Oleh karena itu, ke mana pun kamu pergi, aku tidak akan meninggalkanmu. You have taken a piece of me with you.
Sam-el Ladh



