Ada yang melayani-Mu karena telah memiliki segala sesuatu, namun merasa ada satu ruang kosong dalam jiwanya yang belum terisi, yang dipercayanya hanya Kau yang bisa mengisinya. Ada juga yang melakukannya karena belum memiliki apa-apa, karena itu ingin mengisi hidupnya dengan kelimpahan dan kekayaan yang ada pada-Mu.
Mereka melayani-Mu dengan giat, tekun, dan berapi-api. Menghitung setiap sukses yang diraih, setiap tepuk, setiap sorak, setiap hormat yang diterima. Mereka menceritakan setiap bejana yang terisi penuh, setiap pundi yang berlimpah, setiap monumen dan prasasti pun dipajang dan dipamerkan.
Aku juga disebut pelayan-Mu, namun aku tidak punya segala sesuatu seperti mereka. Aku juga tidak ingin mengisi hidupku dengan kelimpahan dan kekayaan-Mu. Aku juga tidak, ah jarang sekali, mendengar tepuk, sorak, dan hormat itu. Apalagi monumen dan prasasti ku pun tidak seberapa, kalau tidak mau dikatakan tidak ada.
Bejanaku hanya bejana tanah liat ini, pundiku hanya satu yang mengalirkan minyak berkat-Mu selama aku bisa, karena itu aku tak pernah bisa banggakan berlimpahnya pundiku ini. Ah, dan aku pun disebut melayani-Mu?
Sam-el Ladh