Thoughts and Devotions

September 15, 2011

Every time you go away…

Filed under: Thoughts

Everytime you go away, you take a piece of me with you

Penggalan lagu yang dilantunkan oleh Paul Young itu bergema di kepalaku ketika mendengar salah seorang anak asuh kami, sebut saja Budi, kembali kabur ke jalanan. Satu tahun lebih, dia telah bersama kami dan kembali ke sekolah. Sejujurnya, mengembalikannya ke sekolah merupakan salah satu pencapaian terbesar kami. Setidaknya, suatu pencapaian yang paling memuaskan kami. Begitu lama kami mendekatinya, orang tuanya, meyakinkan mereka, atau lebih tepatnya membujuk mereka, agar dia diizinkan untuk tinggal bersama kami dan bersekolah. Aku juga masih ingat, ketika diwawancara pihak sekolah, aku tidak ragu untuk menyebutkan angka yang kami rela bayarkan sebagai sumbangan sukarela, supaya bisa memastikan tempatnya di sekolah itu.

Untuk informasi, Budi mempunyai delapan saudara, dengan adik yang terkecil masih bayi. Dia dan semua saudaranya “dikaryakan” orang tua mereka untuk mengamen dan meminta-minta di jalanan. Karena itulah kami berusaha keras “merebut” dia, dan saudara-saudaranya, dari kehidupan yang tidak layak itu. Apa yang kami rasakan sebagai kerja keras itu, terasa sepadan ketika dia dan dua orang kakaknya diizinkan orang tua mereka untuk bergabung bersama kami.

Hari-hari pertama tiga bersaudara ini di sekolah adalah hari-hari yang paling membahagiakan kami. Akan tetapi, salah seorang dari mereka ternyata hanya bisa bertahan satu semester. Dia kabur dan tidak mau kembali lagi ke sekolah. Seorang kakak yang lain bertahan hampir satu tahun. Tepat sebelum ujian kenaikan kelas, dia kembali ke jalanan, dan bergabung dengan teman-temannya “yang lebih bisa mengerti aku”, katanya. Mereka merasa gagal beradaptasi dengan dunia baru mereka, dunia sekolah dan kehidupan rumahan.

Budi pun tidak bisa dikatakan “mulus” dalam adaptasinya di dunia barunya. Beberapa kali dia ngambek dan kabur ke jalanan, tetapi selalu berhasil kami bujuk untuk kembali. Dukungan penuh dari pihak sekolah, guru dan teman-temannya, juga membuat kami yakin, Budi tidak akan menyerah seperti kedua kakaknya.

Setiap kali Budi ngambek dan kabur, aku dan teman-teman akan mencarinya dan mengajaknya pulang. Ketika bulan ramadhan yang lalu, dia kabur lagi dan menolak untuk pulang. Selama satu bulan kami membujuk dan menunggunya, karena itu ketika liburan lebaran usai dia kembali, aku hampir mengadakan pesta besar untuk menyambutnya.

Everytime you go away, you take a piece of me with you

Hari ini, aku dilapori bahwa Budi kabur lagi. Sepulang dari sekolah dia masih sempat membereskan peralatan sekolahnya dan makan siang. Namun saat teman-temannya berkumpul untuk mengerjakan pekerjaan rumah, dia menghilang. Hatiku tidak karuan mendengar kabar ini. Tidak tahukah dia, setiap kali dia kabur, dia membawa sepenggal hatiku bersamanya? Aku selalu merasa, aku tidak mempunyai banyak untuk diberikan kepadanya, dan teman-teman dari jalanan lainnya yang tinggal di tempat kami. Yang aku bisa beri adalah segenap hatiku. Segenap hidupku, itulah yang aku bagikan kepadamu Budi. Oleh karena itu, ke mana pun kamu pergi, aku tidak akan meninggalkanmu. You have taken a piece of me with you.

Sam-el Ladh

digg   Post to Del.icio.us   Share on Facebook

May 23, 2011

Kembalilah

Filed under: Puisi

“Ngapain sih kak, dicari-cari. Wong anaknya nggak mau pulang kok!”. Begitulah hardikanmu dan teman-temanmu di jalanan, ketika kami mengajakmu pulang. Sudah beberapa hari ini kamu tidak masuk sekolah. Gurumu dan teman-temanmu menanyakan tentang kamu. Kenapa sejak liburan kemarin, kamu tidak kunjung masuk sekolah.

Kamu beralasan, teman-teman di sekolahmu sering mengejek kamu. Kamu kesal, kamu sakit hati, kamu malu. Ah, ini bukan kejadian yang pertama bagimu. Beberapa tahun yang silam, kamu hanya bertahan kurang dari sebulan di sekolah karena alasan yang sama. Sekarang, setelah hampir satu tahun, kamu memutuskan untuk mengulang cerita itu? Lagipula, cerita itu bukan cerita eksklusif kamu. Dua orang teman kamu telah memberikan kami cerita itu, ketika mereka juga memutuskan untuk menyerah.

Kamu dulu mungkin seperti mereka. Dengan mudah menyerah ketika ada sesuatu yang menghalangi kamu, dan menyalahkan seluruh dunia untuk keputusanmu melarikan diri. Itu dulu, sayang. Sekarang kamu bukan dirimu yang dulu lagi. Lihat, impian-impian yang sudah kamu rajut, walau dengan perlahan, selama hampir setahun ini. Jangan biarkan teriakan atau ejekan mereka yang tidak punya empati, merusakkan kembali jalinan itu.

Memang mereka yang mengejek dan menghinamu, harus diberi peringatan keras. Akan tetapi, ketahuilah, teman-temanmu yang berteriak gembira ketika kamu menyerah, juga bukanlah teman yang sejati. Tempatmu bukan di perempatan itu lagi anakku. Tempatmu di sini, di pondok sederhana namun penuh warna-warni impian yang sedang kita rajut bersama-sama.

Kembalilah. Jalan menuju impian itu memang terjal dan berliku, tetapi jika kamu tetap melangkah, dengan beringsut sekalipun, kamu pasti akan sampai ke sana. Itu pasti, karena yang mengiringi langkah kamu, langkah kita, adalah Kasih yang tidak akan pernah pudar sampai kesudahan zaman. Kembalilah. Kami sayang padamu. Kami sungguh sayang padamu. Seperti Dia yang demikian sayang pada kita sampai rela mati bagi kita, kami mau menyayangimu.

Sam-el Ladh

digg   Post to Del.icio.us   Share on Facebook

January 26, 2011

Nyanyian Musa

Filed under: Puisi

Salahkah aku Tuhan
bila kuucap lelah,
jenuh, dan penat?

Salahkah aku bila
desahku bernada keluh,
sesah, bahkan sungut?

Saat kulihat bangsa ini,
yang tegar tengkuk bak
bagal bodoh tak berakal?

Ah, kulihat kayu kasar itu,
jawaban bisu penuh makna
dari si tukang kayu

Sam-el Ladh

digg   Post to Del.icio.us   Share on Facebook

November 10, 2010

Saat Kenangan Datang

Filed under: Thoughts

Aku sedang mempersiapkan bahan untuk bible study hari ini, ketika secarik kertas terjatuh dari bahan bible study yang sedang kubaca. Secarik kertas putih yang terlipat rapi. Bukan sesuatu yang istimewa, dan biasanya setelah memeriksa isinya aku akan membuangnya ke tempat sampah atau menyisipkannya kembali di antara halaman buku tempat kertas itu berasal. Akan tetapi secarik kertas yang satu ini berbeda, tulisan tangan di atasnya begitu akrab di hatiku, tulisan tangan gembalaku, tertanggal Mei 1999.

Ah, kenangan itu langsung menderas bagai aliran dari pintu air yang tiba-tiba dibuka lebar. Begitu banyak yang sudah kau berikan kepada kami, ibu. Bahan Bible Study di tanganku adalah saksinya. Sepuluh tahun berlalu sejak kau pergi. Apa yang kau sudah berikan itu kini menjadi warisan di tangan kami, dan Tuhan, tolong kami menjaganya dan menjadikannya warisan kami bagi generasi sesudah kami.

Sam-el Ladh

digg   Post to Del.icio.us   Share on Facebook

October 29, 2010

kata, hati

Filed under: Puisi

ketika kata memilih bersembunyi,
dan menolak panggilan hati,
hati termeung dalam sepi,
tak ada yang menyapa, pun disapa

tapi ah, adakah kata tanpa hati?

sam-el ladh

digg   Post to Del.icio.us   Share on Facebook





















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer