Mengakhiri satu tahun tidak pernah mudah bagi saya. Entah kenapa, ketika semua orang sibuk memikirkan cara terbaik untuk menghabiskan malam akhir tahunnya, saya malah disergap oleh berbagai pikiran yang menggelisahkan. Ingatan tentang satu tahun yang akan segera berlalu berseliweran melintasi benak, dibumbui dengan pertanyaan-pertanyaan tentang hasil apa yang sudah dicapai dari semua pekerjaan yang telah dilakukan. Evaluasi, refleksi, introspeksi, menyesaki ruang pikir saya. Namun di akhir tahun ini sepenggal nasehat Yesus dalam Injil ini menenangkan saya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:28-30)
Kelegaan. Itu adalah pemberian sepihak dari sang Gembala yang baik. Semua yang letih lesu oleh perjuangan dan pergulatan dalam hidup, semua yang pontang panting, tertatih-tatih, bahkan terseok-seok menjalani hari-harinya karena beban lahir batin yang begitu menekan, diundang untuk datang dan menerima kelegaan dengan cuma-cuma, gratis. Sang Gembala baik itu mengatakan dengan tegas, kelegaan akan diberikan kepada siapa saja yang datang kepadanya. Mengakhiri tahun 2009 ini, undangan sang Gembala ini merupakan hadiah akhir tahun yang terbaik. Tahun 2009 dilewati dengan begitu banyak perjuangan dan jerih payah. Ada banyak penyesalan karena kegagalan, ada banyak air mata dan kesedihan, ada banyak beban yang masih menggelayut di pundak, namun saya tidak perlu membawa semua itu bersama saya memasuki tahun yang baru.
Akan tetapi sang Gembala tidak hanya sekedar mengundang untuk memberikan kelegaan. Dia menawarkan cara untuk melewati hari-hari ke depan dengan bahagia. Cara yang ditawarkan sungguh unik: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku.” Dia tidak menawarkan ranjang pegas dan kursi malas. Yang dia tawarkan adalah sebuah ‘perhambaan’ dan ‘proses’. Kuk berbicara tentang penaklukkan diri dan ketaatan sempurna (perfect submission), dan belajar adalah sebuah proses yang tidak pernah berakhir. Ajakan sang Gembala ini juga merupakan hadiah tahun baru yang terbaik bagi saya. Rahasia untuk berbahagia di tahun 2010 ini adalah yang pertama penyerahan diri kepada sang Gembala, mempersembahkan ketaatan yang sempurna untuk mengikuti pimpinan-Nya. Yang kedua adalah kesetiaan untuk terus belajar, melewati proses selangkah demi selangkah. Dan sang Gembala pun berjanji lagi: “karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.
Ah, tahun baru. Bersama sang Gembala yang baik, tidak ada yang perlu saya cemaskan. Selamat tahun baru!
Sam-el Ladh