Thoughts and Devotions

July 10, 2010

Kapankah

Filed under: Puisi

Kapankah kau akan pahami cinta ini
yang sekian lama bersemai di ladang hatiku
dipupuk oleh kebanggaan masa silam
dan cerita kejayaan zaman purbakala

Kapankah kau akan pahami cinta ini
dan berhenti menorehkan luka dan derita
goresan dan sayatan ketidakadilan,
kemunafikan, dan kebengisanmu tiap hari

Ah, kapankah kau akan pahami,
cinta di hati ini tidak abadi

Sam-el Ladh

Seperti Apa Rasanya

Filed under: Puisi

Seperti apa rasanya kekelaman itu,
saat semua cahaya dipadamkan,
semua suluh dan dian menjadi sirna?

Seperti apa rasanya keheningan itu,
saat canda dan tawa dibungkamkan,
semua bisik dan ucap jadi tiada?

Seperti apa rasanya,
bila saat itu tiba bagimu, bagiku?

Sam-el Ladh

June 23, 2010

Biarkan Kami

Filed under: Thoughts

Sudah lebih seminggu terakhir ini saya kembali bersama teman-teman yang mendampingi komunitas anak jalanan di Jombor. Perempatan Jombor selalu ramai di sore hari, dengan para pengendara yang tidak sabar lagi ingin cepat pulang ke rumah.Sejak kami memulai program 3 bulanan kami yang baru di sana, perempatan itu menjadi makin ramai lagi dengan anak-anak dan beberapa relawan bertampang mahasiswa yang beraktifitas dengan penuh semangat. Sebenarnya saya tidak lagi terlibat langsung dalam program-program yang langsung turun ke jalan, tapi karena ada seorang Bapak yang mengajukan permintaan kepada kami untuk berkenan mengasuh dan menyekolahkan anaknya lewat program Pengasuhan kami, saya merasa sebaiknya saya yang bertemu langsung dengannya.Ketika kemudian saya melihat mereka bersemangat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan LSM kami di sana, saya jadi bersemangat lagi untuk lebih sering mendatangi mereka.

Kegiatan yang kami lakukan sendiri sebenarnya tidak terlalu ‘menghebohkan’. Kami cuma mengadakan les calistung (baca tulis hitung) untuk beberapa anak, yang kami antar jemput dari perempatan Jombor untuk belajar di kantor kami, 5 hari dalam seminggu. Lalu kami juga mengajak mereka berkreasi lewat kegiatan menggambar/melukis bersama, seminggu sekali. Ada juga yang membawa kotak berisi buku-buku bacaan, yang kami namai Ko-PER (Kotak Perpustakaan). Dan yang mungkin sedikit unik adalah kami meminjamkan beberapa kamera analog kepada anak-anak jalanan, untuk mereka pakai mengabadikan aktifitas mereka sehari-hari. Film untuk kamera-kamera itu kami sediakan, dan kami juga akan memproses foto-foto hasil jepretan mereka.

Sore ini saya kembali ke perempatan ramai itu. Betapa senangnya melihat wajah anak-anak yang penuh senyum dan kegembiraan walau dalam segala keterbatasan. Sewaktu saya sedang berbicara dengan Bagas dan Eno, dua bocah berusia 6 tahun yang sangat lucu, tanpa sengaja mata saya tertuju kepada para pengendara yang sedang berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Ada seorang Bapak yang memandang dengan tajam ke arah kami. Dari pakaiannya saya menduga dia mungkin seorang pegawai pemerintah, entah dari instansi mana. Sedikit ge-er karena ada yang memandangi, saya mencoba tersenyum. Akan tetapi Bapak itu malah semakin melotot. Kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Dia memandangi saya tanpa berkedip sedikit pun, sampai rambut halus di tengkuk saya pun berdiri karenanya. Tetapi Bapak itu tidak memalingkan wajahnya sama sekali, matanya melotot dan penuh selidik. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Untungnya lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, dan si Bapak pun meneruskan perjalanannya, dengan, sekali lagi, entah apa yang ada di dalam pikirannya.

Ah, saya jadi teringat adegan dua tahun yang lalu sewaktu kami diadili warga sebuah kelurahan yang menolak di lingkungannya ada rumah yang menampung anak-anak yang “belum jadi manusia seutuhnya”. Apakah saya masih trauma oleh peristiwa itu, sehingga menghadapi pelototan seorang Bapak di perempatan saja, saya sudah bergidik? Mudah-mudahan ini hanya masalah saya sendiri, karena bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang peduli kepada sesamanya. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang peduli bukan hanya dengan retorika kata-kata atau tindakan-tindakan seremonial. Teman-teman kami di jalanan butuh kesempatan, kesempatan untuk belajar dan kesempatan untuk sekedar bermain dan tertawa. Biarkanlah kami memberikan itu kepada mereka, Bapak.

You don’t know what it’s like to love somebody, the way I love you…

23/06/2010

Sam-el Ladh

June 18, 2010

Jika Kau

Filed under: Puisi

Jika kau cari yang heboh dan hingar bingar di sini,
kami terus terang tidak punya..
Jika kau bawa tongkat pengukur atau mesin pengitung,
kami jelas angkat tangan..
Jika kau mau yang berkilau dan berpendar-pendar itu
kami memang tidak sanggup..

Kami cuma punya salib kayu kasar itu,
dan tangan dan kaki yang rela berlubang paku
demi kamu..

18 Juni 2010

May 21, 2010

Melayani itu

Filed under: Puisi

Melayani itu harus lihat-lihat
Lihat dulu merek sepatunya, merek pakaiannya,
jam yang melingkar di tangannya, wangi parfumnya,
dandanan rambutnya serta aneka perhiasan emasnya..

Kalau cuma si lusuh anak tukang kayu itu,
dengan kawanannya yang kampungan dan sederhana,
dengan perempuan-perempuan desa yang polos
dan rombongan penyakitan dan pesakitan itu…

Ah, this world is not my home, I’m just a passing thru..

Sam-el Ladh























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer