Bulan Desember ini saya banyak merenungkan tentang empati. Salah satu penyebabnya, mungkin anda bisa menebaknya dengan mudah, karena di bulan ini umat Kristiani merayakan Natal. Bagi kami di LSM Rumah Impian (Dreamhouse) Desember karenanya juga berarti bulan penuh berkah, karena kami mendapat banyak undangan dari berbagai pihak yang ingin ‘berbagi kasih’ dengan kami. Berusaha untuk selalu berpikir positif, saya mensyukuri semua undangan itu, karena itu berarti masih ada banyak pihak yang prihatin dan peduli dengan nasib anak-anak jalanan yang kami tangani. Syukur-syukur itu bahkan bukan datang dari sekedar rasa prihatin dan peduli sesaat, namun dari empati yang mendalam.
Empati. Kata yang berasal dari bahasa Yunani empatheia (ἐμπάθεια) ini, sudah dipakai secara luas untuk mengungkapkan kemampuan untuk turut merasakan perasaan dan emosi sesama. Menengok definisi kata ini di Wikipedia, saya menemukan banyak sekali definisi dari berbagai ahli. Salah satunya adalah dari DM Berger yang menyebutkan empati sebagai “The capacity to know emotionally what another is experiencing from within the frame of reference of that other person, the capacity to sample the feelings of another or to put oneself in another’s shoes“. Bagi Berger, empati adalah suatu kemampuan yang luar biasa. Bagaimana tidak, itu adalah kemampuan untuk turut merasakan secara emosi apa yang dialami di dalam diri orang lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi yang sama dengan orang lain.
Di bulan Desember ini, banyak yang menyatakan bahwa mereka mau berempati dengan anak jalanan dan orang miskin. Oleh karena itu berbagai acara bakti sosial digelar, dan bantuan karitatif digelontorkan. Semua itu tentu adalah hal yang baik. Apalagi jika sebelum melakukannya, kita merenungkan benar-benar betapa Natal sesungguhnya adalah demonstrasi empati Allah yang maha kuasa terhadap ciptaan-Nya melalui kehadiran Yesus Kristus.
Injil menceritakan, Yesus Kristus telah mengajarkan empati kepada manusia sejak dia berada di dalam kandungan. Dari sekian banyak perempuan di tanah Palestina. Allah memilih seorang perempuan desa biasa yang bernama Maria. Bukan itu saja, Maria yang dipilih Allah ini adalah seorang gadis yang belum menikah. Dalam konteks masyarakat ketika itu, seorang gadis yang kedapatan hamil sebelum nikah akan mendapat masalah yang luar biasa besar. Yesus memilih hadir ke dunia di dalam kandungan seorang gadis perawan, bukan hanya karena alasan keilahian, tetapi saya kira, karena dia ingin mengajarkan empati terhadap bayi-bayi yang ditolak sejak di dalam kandungan, karena kehamilan yang tidak direncanakan. Dia juga ingin mengajarkan empati terhadap perempuan-perempuan yang dinistakan karena kedapatan hamil sebelum menikah. Bunda Yesus Kristus, bayi Natal itu, sekurang-kurangnya harus menghadapi gunjingan orang-orang di kampungnya karena kehamilannya. Bahkan kalau bukan karena intervensi illahi, Yusuf, tunangannya, sudah akan memutuskan hubungan dengan dia.
Empati yang diajarkan Yesus berlanjut pada kisah kelahirannya. Kita sudah sangat pandai membuat dekorasi natal dengan kandang domba dan bayi Yesus yang terbaring dalam palungan. Dalam semua drama Natal, setting ini sudah menjadi wajib hukumnya. Akan tetapi ada satu hal yang kurang dalam setting kandang domba Natal kita. Kita mungkin lupa, satu ciri utama dari sebuah kandang domba tidak lain adalah bau, maaf, kotoran domba yang menyengat. Tanpa bau itu, kita tidak akan menyebutnya kandang domba. Yesus Kristus, bayi Natal kita, hadir di dunia di dalam kandang yang bau itu. Dia memilih hadir ke dunia di tempat seperti itu, karena dia mau mengajarkan kita untuk berempati dengan mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal yang layak di dunia ini, dengan mereka yang ditolak dan tidak diterima di mana-mana karena dianggap terlalu bau (dengan ataupun tanpa tanda kutip).
Merenungkan empati yang diteladankan Yesus Kristus tidak akan cukup dengan satu tulisan di blog ini saja. Seluruh hidup Yesus di bumi adalah teladan empati yang tiada tandingannya. Di Natal ini saya hanya mau merenungkan, jika Natal adalah demonstrasi empati dari Yesus Kristus, bagaimana seharusnya para pengikut-Nya menyambut Natal? Ah, masih terlalu banyak yang ditolak, dipinggirkan, bahkan diasingkan di sekitar kita. Bayi Natal itu hadir untuk mereka.
Sam-el Ladh